Rabu, 01 Juni 2011

Jemaat dan Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga!


Hari ini jemaat Kristiani memperingati kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Peristiwa itu terjadi 40 hari setelah kebangkitanNya dari antara orang mati.

Lukas menulis tentang kenaikan ini dalam bukunya Kisah Para Rasul, “ … terangkatlah Ia (Yesus) disaksikan oleh mereka (rasul-rasulNya), dan awan menutupNya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang (malaikat) yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Galilea, mengapa kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga. Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun … ’” (Kisah Para Rasul 1:9-11).

Jemaat perlu memperhatikan, bagaimana proses keberangkatan Yesus meninggalkan bumi menuju ke sorga itu dilakukan?


Pertama, Yesus terangkat ke sorga dari sebuah bukit bernama Bukit Zaitun, dekat kota Yerusalem. Kedua, Ia terangkat secara perlahan-lahan, tidak mendadak (Inggris: gradually). Ketiga, secara jasmani; jadi bukan hanya roh & jiwaNya saja yang diangkat ke sorga melainkan dengan segenap tubuhNya juga. Keempat, terjadi di depan umum, yaitu kelihatan dengan jelas oleh murid-muridNya. Kelima, disertai oleh awan kemuliaan.

Setibanya di sorga, Tuhan Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa di tempat maha tinggi (Ibrani 4:14; 1:3; 10:12; Roma 8:34; Kolose 3:1; I Petrus 3:22). Kitab Ibrani menulis bahwa Yesus "melintasi semua langit", artinya untuk sampai ke sorga Dia harus melewati atmosfir udara bumi, kemudian ruang kekuasaan roh-roh jahat yaitu angkasa luar, sebelum akhirnya tiba di kediaman BapaNya di sorga, yang oleh rasul Paulus disebut langit ketiga.

Tuhan Yesus sendiri sebelumnya sudah memberitahukan murid-muridNya bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa. Kembalinya Tuhan Yesus ke sorga memberikan paling sedikit dua manfaat bagi jemaat-Nya:

1.menyediakan tempat bagi kita di sorga (Yohanes 14:2)
2.mengutus Roh Kudus untuk diam di dalam kita (Yohanes 14:16-17)

Yang menarik pada kenaikan Yesus ini ialah, pernyataan malaikat bahwa Yesus akan turun kembali ke bumi dengan cara yang sama seperti yang dilihat rasul-rasul tatkala Ia naik ke sorga!

Yesus yang telah naik ke sorga, adalah Yesus yang akan datang kembali untuk menjemput jemaatNya dan membawa semua orang percaya ke tempat di mana Ia berada sekarang. <>

Jawatan Rasul di gereja mula-mula


Quantcast

Yesus naik ke Sorga
Peristiwa bersejarah, ketika Tuhan Yesus akan meninggalkan para murid-Nya di bukit Zaitun untuk pergi kepada Bapa di Sorga dicatat oleh Matius dalam Injilnya pasal 28:18-20 demikian: Yesus mendekati mereka dan berkata:
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
1. Menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus.
Terkait dengan Amanat Agung, Rick Joiner menulis dalam buku Pelayanan Apostolik: ”Pondasi Amanat Agung adalah bahwa segala otoritas telah diberikan kepada Yesus, baik di sorga maupun di atas bumi. Pada dasarnya, Amanat Agung merupakan penyataan dari otoritas-Nya”. Tidak dipungkiri lagi bahwa para murid, para rasul adalah pengemban tugas estafet karya besar rencana Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang berdosa yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Mesias.
Tuhan melengkapi para murid dengan Roh Penolong, Roh Penghibur, Roh Kudus yang akan menuntun para rasul disetiap peristiwa yang di alami oleh para murid yang senantiasa taat dan setia di dalam tugasnya sebagai pengemban Amanat Agung. Dan sejarah membuktikan, bahkan Injil mencatat kinerja para rasul setelah Yesus naik ke sorga. Betapa dahsyat kinerja para rasul ketika menyampaikan kebenaran firman Tuhan di depan khalayak ramai, di tengah-tengah bangsa-bangsa yang berkumpul di Yerusalem.
Yesus dan para rasul
Para rasul mendapatkan kuasa yang sangat besar seperti apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 1:8 yang dikatakan: ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”. Perihal Amanat Agung, Dean Wiebracht mengatakan dalam bukunya: ”Jelasnya, Amanat Agung ini bukan sekedar untuk gereja mula-mula. Yesus berjanji untuk bersama-sama dengan pengikut-Nya sampai pada kesudahan alam”.
2. Bentuk pelayanan para rasul.
Pelayanan para rasul mula-mula, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan Tuhan Yesus guru mereka, bahkan jangkauan pekerjaan para rasul lebih luas. Rachmat T. Manullang dalam tulisannya mengatakan, ”Alkitab menjelaskan prinsip yang harus diikuti, yaitu doa syafaat adalah pelayanan di dunia adikodrati atau dunia roh, dunia yang tidak kelihatan yang harusnya menjadi pendahuluan sebelum ada pelayanan yang lain di dunia nyata atau yang kelihatan”. Dengan tanpa kenal takut para rasul berbicara tentang kebenaran, tentang siapakah Yesus yang telah disalibkan. Para rasul juga ”mendemonstrasikan” mujizat yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus. Bentuk pelayanan para rasul mula-mula tercatat dalam Kisah Para Rasul 2:46-47 demikian : Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.
3. Penyertaan Tuhan dalam pelayanan para rasul.
Pelayanan para rasul terkait erat dengan Gereja. Gereja sebagai tubuh Kristus. Rachmat T. Manullang menulis dalam bukunya, ”Gereja sebagai tubuh Kristus memiliki kekuasaan yang sama seperti yang dimiliki Yesus Kristus atas kuasa setan. Dengan demikian kepenuhan Allah dapat menerima semua tempat dan segala bidang kehidupan”.
Bukti penyertaan Tuhan sangat jelas nampak pada mujizat yang dilakukan para rasul, banyaknya orang yang bertobat ketika para rasul menyampaikan seruan pertobatan. Banyak yang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus, dan itu dinyatakan dengan kesedian mereka yang memberi diri dibaptis, dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Ketika para rasul ditangkap para penguasa waktu itu bahkan dimasukkan ke dalam penjara, Tuhan memberikan pertolongan pada para rasul.
Dokumen Konsili Vatikan II menjelaskan tentang penyertaan Tuhan pada para murid-Nya. ”Sebab Tuhan Yesus menyertai para Rasul-Nya seperti telah dijanjikan-Nya (lih. Matius 28:20), dan Ia mengutus Roh Pembantu kepada mereka, untuk membimbing mereka memasuki kepenuhan kebenaran (lih. Yohanes 16:13)”.
Dalam bukunya Rick Joyner mengatakan:
Gereja abad pertama mempunyai bukti yang melimpah tentang hadirat Tuhan bersama mereka. Hampir segala yang mereka kerjakan jauh melampaui ketulusan maupun kepandaian manusia. Sesungguhnya, gereja abad pertama tidak meninggalkan bangunan maupun program apapun di belakang mereka. Mereka hanya meninggalkan hidup yang diubahkan, keluarga, dan bahkan bangsa-bangsa.
4. Dampak pelayanan para rasul pada Gereja mula-mula.
Pekerjaan Tuhan yang dilanjutkan oleh para rasul di muka bumi membawa dampak yang sangat luar biasa. Hill Hamon menulis dalam bukunya.
Rasul-rasul meletakkan fondasi lewat wahyu ilahi dan menghadirkan kebenaran dengan hikmat dan otoritas apostolik. Rasul-rasul biasanya bersedia mendengarkan situasi dari kedua sisi dan kemudian memberikan nasihat bijak. Nasihat itu akan mengoreksi dan menyelesaikannya dengan suara bijak, kedewasaan, dan otoritas ilahi. Jika diperlukan fondasi baru, rasul-rasul kemudian mengajar, mengkhotbahkan, dan menunjukkan doktrin-doktrin Allah dan meletakkan fondasi itu dengan dasar-dasar iman Kristen.
Banyak jiwa dimenangkan bagi Tuhan. Hari pertama rasul Petrus berkhotbah Alkitab mencatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-45 yang berkata, “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing”.
Rick Joyner dalam bukunya mengatakan,
Itulah sebabnya mengapa Amanat Agung bukan sekedar membuat orang-orang bertobat, tetapi “menjadikan mereka murid”. Murid-murid sejati ini adalah mereka yang diajar untuk mempelajari semua yang telah diperintahkan oleh Yesus. Hari lepas hari para rasul mengajarkan apa yang telah diajarkan kepada mereka. Ini merupakan penggenapan Amanat Agung karena berkaitan dengan mengkhotbahkan Injil bagi keselamatan jiwa.
C. Tujuan pemanggilan khusus sebagai rasul.
1. Pengajaran para rasul pada jemaat mula-mula.
Alkitab mencatat sosok Petrus sebagai pimpinan para rasul, waktu itu tampil kedepan dan berbicara kepada banyak orang di Yerusalem katanya, : Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Petrus mendapatkan kekuatan dan hikmat luar biasa setelah menerima pencurahan Roh Kudus pada peristiwa Pentakosta.
J.L.Ch. Abineno menyinggung peran Roh Kudus dalam bukunya, ”Roh Kudus… menurut kesaksian Alkitab … bukan saja bekerja dalam Israel dan dalam Yesus, tetapi Ia, sesudah Yesus, bekerja juga dalam orang-orang percaya dan di dalam dunia.”.
Janji Tuhan untuk memberikan Roh Kudus kepada para murid-Nya juga ditulis oleh Barney Coombs, ”Yesus berjanji akan mengutus Roh Kudus untuk tinggal di dalam mereka dan memperlengkapi mereka”.
Petrus kembali mengatakan, ”Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.” Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”.
Itulah cikal bakal jemaat mula-mula yang mendapatkan penjelasan dari rasul Petrus.
Elmer L. Towns dalam bukunya menjelaskan tentang kehidupan orang Kristen:
Orang Kristen tidak perlu khawatir atau resah tentang pekerjaan apakah yang harus dikerjakan ataupun di manakah ia harus melayani ada rencana Tuhan/Tuan bagi hidupnya (lihat Roma 12:1,2). Orang Kristen tidak harus prihatin jika ia dapat melakukan hal-hal yang dikehendaki Allah untuk dikerjakannya – Tuhan/Tuan menjanjikan karunia-karunia Roh Kudus untuk memampukan dirinya melayani Allah (lihat Roma 12:3-8) .
Pengajaran tentang kebenaran Firman Tuhan sangat penting sebagaimana ditulis Chris Marantika: ”Bukankah firman Tuhan Allah berkata: Segala tulisan yang di ilhamkan [atau dinafaskan] Allah, memang bermanfaat untuk mengajar” (2 Tim.3:16). Jadi sikap yang benar dan wajib bagi setiap orang percaya adalah mempelajari Alkitab secara menyeluruh, termasuk nubuatan”.
2. Janji penyertaan Roh Kudus.
Walter M. Dunnett menulis tentang penyertaan Roh Kudus dalam bukunya:
Dalam ucapan Tuhan Yesus yang terakhir sebelum kenaikan-Nya ke sorga, Ia menjanjikan kepada para murid, ”Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu,” dan penggenapan janji itu terlihat dengan jelas dalam Kisah para Rasul. Roh Kuduslah yang menjadi daya penggerak dalam kesaksian dan pekerjaan mereka bagi Kristus”.
Tuhan Yesus sendiri yang berjanji akan memberikan Roh Kudus yang juga adalah Roh Penghibur. Hal itu dikatakan-Nya kepada para murid waktu itu, kata-Nya, ”Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran”.
James A. Griffin menulis dalam bukunya, ”Roh Kudus” adalah nama yang diberikan kepada pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus oleh Yesus sendiri (Matius 28:19)”.
3. Menjadi garam dan terang dunia.
Khotbah Tuhan Yesus di bukit, begitu indah dan terkenal. Pada bagian khotbah-Nya, Tuhan Yesus berkata, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. (Matius 5:13-16).
4. Menjadi penuai pada akhir zaman.
Bekerja di ladang anggur Tuhan sebagai pengemban Amanat Agung Tuhan Yesus merupakan penggenapan perintah Tuhan dalam Lukas 10:2 yang dikatakan,: Kata-Nya kepada mereka: ”Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala”.
Pekerjaan Tuhan melalui gereja-Nya ditulis oleh Chris Marantika: ”Adanya gereja sangat tergantung kepada Kristus yang agung ini. Dasar persatuan dan pengorbanan gereja bisa dikaitkan dengan peristiwa kematian-Nya. Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus merupakan keyakinan inti dalam Perjanjian Baru”.
Adalah sangat penting untuk diketahui bahwa Tuhan Yesus akan memberikan penuai-penuai pada akhir jaman, mintalah kepada Bapa dan Bapa akan memberikan yang dibutuhkan demikian Tuhan Yesus menyatakan.
Barney Coombs dalam bukunya berbicara tentang siapakah para murid yang juga para rasul, ”Mereka adalah utusan Injil yang pertama: barisan depan dari orang-orang yang diutus untuk memberitakan Injil Kerajaan sampai ke ujung bumi”.
D. Pemanggilan rasul sebagai Utusan Injil Kerajaan Sorga.
1. Rasul sebagai ujung tombak pemberita Injil.
Alkitab mencatat saat-saat terakhir Tuhan Yesus meninggalkan murid-murid-Nya di bukit Zaitun. Dalam Kisah Para Rasul 1:8-9 ada pesan khusus yang disampaikan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Mesias yaitu Tuhan Yesus mengatakan: ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”.
Para murid Tuhan Yesus akan menjadi saksi hidup siapakah Yesus sebenarnya. Para murid Tuhan Yesus yang juga disebut para rasul akan memberitakan Injil Kristus bukan hanya seluruh Yudea dan Samaria, tetapi bahkan sampai ke ujung dunia. Tantangan yang dihadapi para murid tidak ringan, diantaranya adalah peperangan rohani.
Perihal peperangan rohani Rachmat T. Manullang menulis dalam bukunya :
Peperangan rohani yang dimaksudkan adalah berbeda dengan apa yang Yesus alami, karena pada waktu zaman Yesus setan belum dikalahkan, tetapi di zaman ini setan sudah dikalahkan sesuai dengan yang dinyatakan dalam Kolose 2:15: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.
2. Penyertaan Tuhan sampai akhir zaman.
Matius 28:19-20 berisi janji dan jaminan Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya, Tuhan Yesus mengatakan: ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
Saat ini jaman belum berakhir, pekerjaan Tuhan masih berlangsung, penginjilan ke seluruh dunia masih terus berjalan artinya penyertaan Tuhan pada para murid-Nya masih terus berlangsung.
Smith Wigglesworth berbicara tentang penyertaan Roh Kudus yang menguatkan anak-anak Tuhan, ”Kita adalah anak-anak Allah yang dikuatkan oleh Roh-Nya dan Ia telah memberikan kuasa untuk mengatasi segala kuasa kegelapan ( Lukas 10:19)”.
3. Penganiayaan terhadap para pemberita Injil.
Tuhan Yesus menyatakan konsekuensi menjadi murid-Nya, Matius 10:17-18 mencatat pernyataan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: ”Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah”.
Hal ini dialami oleh para pemberita Injil, sebagaimana apa yang ditulis Elmer L. Towns, ”Tetapi seorang Kristen akan mengalami banyak tekanan dalam kehidupannya. ”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan” (Yakobus 1:2)”. Ada resiko ketika mau mengikut Tuhan yaitu kematian.
Richard Brooks menulis: ”Kematian bukanlah ancaman bagi orang Kristen. Kematian membawa kita kepada Kristus dan penghiburan sorgawi”.
Alkitab mencatat dalam Kisah Para Rasul 4:1-3 tentang peristiwa yang menimpa para murid-murid Tuhan Yesus, dikatakan: ”Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam”.
Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mengandung resiko yang tidak ringan, hal ini ditulis Seung Woo Byun dalam bukunya, ”Seseorang yang tidak bisa menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sama sekali tidak bisa menerima Dia. Iman menerima penderitaan, pengampunan, dan kemuliaan Kristus, dan juga tunduk kepada kedaulatan, peraturan, dan jalan keselamatan-Nya”.
Ketika derita menimpa para pemberita Injil, mereka tahu kemana mereka mendapat pertolongan seperti yang ditulis Josh MC Dowell: ”Bapa Teladan kita adalah Sumber Kekuatan, tempat yang aman bagi anak-anak-Nya. Di dalam Dia kita bisa mendapatkan keselamatan dari serangan dan tekanan dunia. Allah adalah tempat perlindungan”.

Menjadi Saksi KRISTUS

"Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (Kisah Para Rasul 1:6-11)


Bahan bacaan di atas menjadi acuan ketika saya diminta berbicara di antara teman-teman dalam persekutuan kami. Karena saat ini adalah waktu-waktu menjelang peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus, rasanya memang sudah seharusnya kami membicarakan topik ini. Mulanya biasa saja, bagian bahan yang rasanya tidak terlalu istimewa. Tapi, itu sebelum saya benar-benar memperhatikannya.

Ternyata, setiap bagian dari Firman Tuhan sesungguhnya istimewa. Kita saja yang belum tahu relevansinya.
Kami mulai membahasnya dengan mendiskusikan bagaimana kehidupan di jaman sekarang ini. Seperti apa kualitas kehidupan? Apakah menjadi semakin baik atau semakin buruk? Dan kami harus melihat bahwa ternyata dunia tidaklah sebaik yang diinginkan. Memang benar, ada kemajuan di sana sini tetapi kemerosotan nampaknya lebih cepat terjadi. Sementara sebagian kecil orang menjadi semakin makmur, sebagian besar manusia di muka bumi mengalami kesusahan yang besar. Masalah muncul dalam berbagai bentuk: pertikaian politik, kemunduran ekonomi, masalah kesehatan, masalah kemanusiaan, sampai datangnya bencana alam yang luar biasa.

Kehidupan naik turun seperti roller-coaster: mula-mula terasa naik perlahan-lahan, lalu tiba-tiba meluncur dengan cepat ke bawah. Bedanya, jika dalam permainan roller-coaster orang menjerit ngeri sambil merasa senang, dalam peristiwa yang mengerikan seperti bencana gempa di Nias, orang menjerit ngeri sambil memandang kematian. Kehancuran. Baru saja rasanya aman, selamat dari bencana tsunami sehingga bisa mulai menata hidup, tiba-tiba semuanya runtuh dalam guncangan yang amat keras di malam hari.

Kehidupan orang Kristen tidak terluput dari kesukaran. Adakah yang mendengar berita, pada tanggal 1 April yang lalu di desa Kerala, India? Sekelompok muslim dan hindu baru saja membakar habis sebuah rumah doa dan menyerang tiga anggota gerejanya. Dua hari kemudian, ketika pendetanya -- Paul Ciniraj Mohammed, yang berlatar belakang muslim -- berbicara kepada orang desa tentang penyerangan tersebut, ia dan asistennya turut mengalami penganiayaan.

Apa yang dilakukan oleh pendeta Paul? Ketika asistennya sedang dipukuli, ia berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga mengampuni para penyerang mereka itu. Seorang wanita desa menyaksikan bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya, serta merta meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka.

Berita-berita semacam ini muncul dari segala penjuru dunia, termasuk dari Indonesia di mana penganiayaan seakan-akan dilakukan bergilir di seluruh tempat di negeri ini. Sementara itu, gerakan-gerakan fundamentalis Islam bersuara semakin keras, menunjukkan kekuatannya. Belum lama berselang, mereka menekan kalangan Islam Liberal dan mengacungkan vonis pemurtadan, sambil menyerukan sikap yang keras. Sedemikian rupa kerasnya, sehingga tokoh-tokoh muslim sendiri merasa khawatir. Nampaknya, semakin tepat kaum muslim mengikuti kebenaran kitab sucinya, semakin keras sikap mereka terhadap orang-orang yang tidak seiman.

Di luar urusan religius, kita juga dikejutkan dengan masalah moralitas. Rupanya pornografi sudah begitu kuat mencengkram alam pikir anak-anak kita, sehingga dua orang remaja bisa memperkosa seorang bocah berumur 6 tahun, membunuhnya, lalu membakarnya tanpa merasa bersalah. Setelah melakukan kebejatan, mereka masih sempat main bola. Ketika kedua remaja itu ditangkap, mereka sedang bersantai-santai, sama sekali tidak nampak ketakutan atas perbuatan keji yang baru mereka lakukan. Kelihatannya, kombinasi antara kecabulan dan kejahatan sudah membuat manusia lebih jahat dari binatang buas, melampiaskan nafsu hanya demi nafsu.

Ada orang Kristen yang tidak peduli -- dan itulah masalah besarnya. Bagaimana mungkin, seorang Kristen tidak peduli atas dunianya yang semakin lama semakin memburuk? Tetapi dia hanya mengangkat bahu sambil berkata, "biarlah terjadi apa yang akan terjadi, toh Tuhan pasti menolong." Ya, Tuhan pasti menolong, tetapi orang Kristen ini sama sekali tidak mau ikut campur. Ada orang Kristen yang ketakutan, lantas berseru-seru dalam doa dan doa dan doa memohon pemulihan. Tetapi selain berdoa, mereka juga tidak melakukan banyak hal lain, kecuali mencari-cari jawaban atas masa dan waktu. Kita sudah menemukan kelompok jemaat Pondok Nabi yang meyakini hari kedatangan Kristus, yang terbukti keliru. Namun orang tidak berhenti mencari tahu kapan waktu kedatangan-Nya, kapan waktu pemulihan itu.

Dan dipikir-pikir, mungkin beginilah kira-kira keadaan murid-murid Kristus pada masa hidup mereka. Ada keresahan yang besar, penganiayaan yang luar biasa. Penindasan oleh penjajah Romawi yang kejam, yang sedemikian kejam sehingga memberi hukuman salib. Tidak sedikit orang yang dihukum salib seperti Tuhan Yesus, bahkan jumlahnya menurut sejarawan telah mencapai ribuan orang. Tangan Romawi adalah tangan besi, yang menghancurkan Yerusalem di tahun 70 M karena mereka memberontak. Nampaknya, orang Romawi bahkan lebih jahat daripada orang Babilonia yang dahulu juga menyerbu Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah.

Wajar saja, ketika murid-murid itu menyuarakan pertanyaan "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Mereka telah tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, yang tidak diragukan lagi sanggup memulihkan kerajaan bagi Israel. Itulah yang menjadi impian tiap orang Israel: mendapatkan kerajaan mereka kembali, dalam pemulihan yang ilahi. Mereka menginginkan kehidupan berjalan seperti semula, mendefinisikan "PULIH" sebagaimana yang manusia pikirkan.
Tetapi apa jawab Tuhan? "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

ENGKAU TIDAK PERLU TAHU. Bukan urusan murid untuk mengetahui tentang masa dan waktu. Bukan urusan kita untuk meributkan dan memusingkan kapan pemulihan akan terjadi. Sebagai ganti dari jawaban atas masa dan waktu pemulihan, Tuhan Yesus memberi suatu kepastian: KAMU AKAN MENERIMA KUASA. Kuasa apa? Kuasa untuk menjadi saksi Tuhan di seluruh dunia.

Tuhan bukannya menghibur murid-murid-Nya dengan memberi penjelasan tentang nubuat-nubuat dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, melainkan Ia menegaskan tentang pokok yang harus dilakukan, untuk menjadi saksi-Nya mengabarkan Injil. Dalam kata-kata Matius, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Inilah urusan kita, tugas kita. Keadaan mungkin nampak buruk, situasi kelihatan buruk sehingga tak ada harapan lagi, tetapi urusan kita adalah menjadi saksi Kristus, memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Bagian kita bukan hanya berdoa -- jangan salah, berdoa adalah yang paling penting untuk dilakukan, tetapi bukan satu-satunya yang bisa dikerjakan.

Dahulu ada seorang rekan segereja yang berkomentar, betapa konyolnya membawa alkitab untuk menolong orang yang sedang susah. Sekarang keadaan sedang terjepit, yang dibutuhkan adalah jalan keluar, solusi instan. Cepat! Mana ada waktu untuk bicara tentang hal-hal seperti keselamatan dalam Kristus? Lagipula, betapa tidak pantasnya. Beberapa teman di mailing list mencela sikap orang-orang Kristen yang berusaha memberitakan Injil kepada orang-orang Aceh yang baru terkena bencana Tsunami. Kalau memberikan bantuan kemanusiaan, berikanlah tanpa embel-embel Injil!
Tetapi, sebenarnya Injil adalah faktor utama yang dibawa untuk menyelamatkan orang. Kebenaran Kristus yang datang menyelamatkan dunia menjadi dasar bagi usaha untuk menolong siapa pun yang membutuhkan, 106kan ketika keadaan menjadi sangat sukar dan tidak masuk akal untuk memberikan pertolongan apa pun. Jika orang melakukan usaha kemanusiaan, upaya itu dibatasi oleh sifat manusia. Jika terlalu sukar, atau terlalu berbahaya, orang akan berhenti sambil mengangkat bahunya, "Tidak bisa." Sebaliknya, upaya memberitakan Injil adalah komitmen untuk memenuhi panggilan Tuhan, melakukan pekerjaan yang Allah berikan.

Amat keliru jika memikirkan pemberitaan Injil adalah kotbah atau memaksa orang mendengar dan mengaku percaya demi mendapatkan sekotak makanan. Berita Injil disampaikan terlebih dahulu melalui perbuatan, bukan kata-kata. Tuhan Yesus melakukannya dengan menyembuhkan dan memulihkan kehidupan orang-orang, bukan hanya bicara dan bicara.
Saya sangat tersentuh ketika membaca bukunya Franklin Graham, "Living Beyond The Limits" (terjemahan Indonesia: Hidup Melampaui Batas-batas, penerbit Nafiri Gabriel, Jakarta). Dia memberi kesaksian tentang bagaimana dirinya serta orang-orang yang setia kepada Tuhan bekerja dalam keadaan yang rusak di Angola, Bosnia, Libanon, dan juga kepada narapidana di penjara. Kehidupan yang rusak dipulihkan oleh Firman Allah, dan bantuan kemanusiaan adalah perangkat-perangkat-Nya. Ibaratnya seperti peralatan medis, semua yang dibutuhkan untuk menolong seorang pasien yang sakit. Peralatan-peralatan itu berguna sekali di tangan seorang dokter, tetapi hanya menimbulkan kesulitan di tangan awam (walau bukan berarti tidak bisa dipakai sama sekali). Yang menyembuhkan adalah dokter, bukan peralatannya. Ia yang tahu apa kegunaan setiap alat, bagaimana memakainya dengan efektif.

Untuk semua kesusahan, Graham membawa Firman Allah dengan perangkat-perangkat yang disiapkan oleh Samaritan Purse, organisasi pelayanannya. Ia mendirikan atap-atap bagi orang di Bosnia, memberikan seekor sapi yang menolong Panglima Mohammed melalui musim dingin yang sukar. Tetapi semua itu menjadi bagian dari pemberitaan Injil: tindakan pertolongan itulah yang menjadi Injil yang diberitakan. Pertolongan yang dibutuhkan manusia bukan sekedar cara untuk makan hari ini saja, melainkan pemulihan kehidupan secara utuh, secara menyeluruh. Orang harus ditolong untuk melalui masa-masa yang sukar dan menjalani hidup yang baru, yang kekal di dalam Tuhan.

Pemberitaan Injil menjadi usaha pertolongan yang dibutuhkan itu; isinya bukan hanya sekedar membicarakan Firman, melainkan melakukannya. Orang terlebih dahulu melihat apa yang dilakukan, bukan apa yang diucapkan. Memang sangat penting untuk menjaga agar perilaku senantiasa sesuai dengan ucapan, tetapi jika kita tidak bisa menjaga ucapan kita dari kata-kata yang jahat dan kotor, sebaiknya kita tidak berkata apa-apa.

Apakah semua ini hanya perlu dilakukan tanpa suatu arah, tanpa suatu tujuan akhir? Tidak begitu. Perhatikanlah kembali apa yang terjadi setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Ia telah memberikan amanat-Nya untuk memberitakan Injil. Murid-murid diharapkan untuk segera menyebar dan mempersiapkan diri menerima kuasa seperti dijanjikan-Nya. Jadi, begitu
Kristus naik, sudah selesai, bukan? Tugas sudah diberikan. Briefing sudah selesai. Sekarang, bubar!

Tetapi, Tuhan tidak berhenti di kenaikan. Ketika murid-murid masih memandang ke langit, ada dua orang berpakaian putih memberi penjelasan penting ini: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Setelah kenaikan-Nya, ada berita lain yang tak kalah pentingnya: Tuhan akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kenaikan-Nya ke Sorga. TUHAN AKAN DATANG KEMBALI. Ini perlu ditulis dengan huruf besar-besar, agar kita semua ingat. Pemberitaan Injil bukan hanya suatu proses satu arah, seperti yang dilakukan oleh banyak tokoh agama. Mereka semua menuju ke satu titik puncak, setelah itu masuk ke alam surgawi dan tidak pernah kembali lagi. Tetapi, Tuhan Yesus akan datang kembali. Memang kita tidak tahu tentang waktu dan masa, tetapi kita tahu pasti akan kedatangan-Nya.

Pemberitaan Injil mengarahkan orang untuk menghadapi masa itu, saat-saat kedatangan-Nya. Entah kita masih hidup, atau kita sudah mati, kita semua akan bangkit untuk menyongsong-Nya. Pemberitaan Injil bukan sekedar mengajar orang untuk berbalik dari jalan hidup mereka yang menuju kebinasaan, melainkan mempersiapkan orang bertemu dengan Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Orang belajar untuk mengenal Tuhan, merasakan kasih karunia Tuhan, agar selanjutnya bisa membagikan kasih itu kepada orang lain. Ini adalah proses yang bertumbuh, sehingga setiap orang dapat menggunakan segala daya dan upayanya untuk menjangkau orang lain, dan akhirnya kelak bersama-sama akan bertemu muka dengan Tuhan.

Karena sifatnya yang menyongsong ini, waktunya terbatas. Pilihannya pun terbatas. Jika seseorang mau menerima Injil Yesus Kristus, dia akan diselamatkan. Jika ia tidak mau menerima, orang ini tidak akan selamat di hadapan Tuhan yang datang kelak. Dan waktunya tidak panjang: mungkin kematian akan lebih dahulu mengambil kesempatan bertobat. Mungkin pula, besok Tuhan datang dan tidak ada lagi kesempatan. Di tengah-tengah bencana dan kesusahan, siapa yang tahu berapa lama lagi waktunya akan habis?

Ketika saat-Nya tiba, bukankah mereka yang masih belum mengenal Dia akan celaka? Karena itu, betapa pentingnya memberitakan Injil. Beritakanlah dengan perbuatan kita pada dunia, beritakanlah dengan kesaksian kita tentang Kristus dalam hidup kita, dan beritakanlah dengan ucapan kita yang menjelaskan kasih karunia-Nya.

Satu hal, sebagai penutup: untuk memberitakan Injil, kita terlebih dahulu harus mengetahui Injil. Kita harus belajar Firman, belajar dengan tekun dan setia. Kalau tidak belajar, apa yang dapat kita sampaikan? Jangan dengarkan orang-orang yang masih sibuk meributkan tentang otoritas Alkitab, atau tentang kritik-kritik Alkitab. Mereka yang meributkan itu tentu tidak akan menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang berotoritas yang harus segera diberitakan kepada banyak orang. Kemanusiaan menjadi hal yang terpisah dari Firman, dan ketika kemanusiaan dilaksanakan tanpa Tuhan, keadaannya seperti alat bedah di tangan seorang awam. Bukannya menyembuhkan, sebaliknya bisa mematikan!
Belajar Firman hanya dapat dimulai dengan merendahkan diri di bawah otoritas Allah, tunduk kepada Firman-Nya.

Dibutuhkan dedikasi dan komitmen untuk merenungkan Firman, menemukan kebenaran-kebenaran mutlak yang dibutuhkan untuk kehidupan. Kita tidak bisa begitu saja membaca Alkitab lalu mendapatkan semuanya, seperti memungut batu di pinggir jalan. Dan dibutuhkan lebih banyak lagi upaya untuk menjadikan kebenaran-Nya menjadi prinsip yang menghidupi kita, yang terwujud dalam segala perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita. Semua ini adalah proses yang terus menerus, pembaharuan budi yang terus menerus menjadi manusia yang Allah inginkan, serta memberi kehidupan pada dunia.

Kiranya, kita mengerti bahwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah awal dari pemberitaan Injil, yang mengajak kita sekalian untuk mengambil bagian di dalamnya. Terpujilah TUHAN!


YESUS KRISTUS mengasihi Anda..

Selasa, 24 Mei 2011

Selagi Kita Masih Dipercaya

 Yesus Sayang Pa Torang-Tuhan Allah mempercayakan PutraNya yang Tunggal yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk memberikan hidup yang kekal. Kedua : Hidup kekal hanya diberikan Tuhan Allah kepada manusia yang percaya kepada Tuhan Yesus.

Pertayaan yang patut kita renungkan berkenaan dengan PERCAYA adalah. Apakah kita percaya sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus yang telah diutus Allah. Percaya berarti menyerahkan semua hidup dan kehidupan kita kepada Tuhan yang mengatur kita. Lalu apakah kita patut dipercaya oleh Tuhan Allah menerima Kerajaan-Nya.

Kalau sama sama percaya berarti tidak ada masalah. Dengan percaya itu berarti akan saling menjaga, saling memelihara, saling mendukung dan tidak menaruh curiga. Namun kalau sama-sama tidak percaya…? Jangan harap ada hubungan baik. Antara satu dengan yang lain saling ‘mengintai’ saling waspada bahkan saling mencurigai. Hidup tanpa ada kepercayaan dari pihak lain amat tidak menyenangkan.

Ketika kita dipercaya, baik itu oleh masyarakat, gereja atau atasan kita, gunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai orang lain kehilangan kepercayaan pada kita. Demikian juga saat kita dipercaya oleh Tuhan dengan talenta-talenta yang Dia berikan kepada kita. Gunakan dengan baik untuk memuliakan namaNya. Jangan kita pendam talenta itu, sebab Tuhan Allah akan mengambilnya. Sungguh, jangan sampai Dia tidak mempercayai lagi kepada kita.

Selagi Tuhan masih mempercayai kita sebagai anak-anakNya, selagi Tuhan Yesus berkata : “ …Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal…”

Sekali lagi, selagi kita masih dipercaya gunakan kepercayaan itu dengan sebaik-baiknya untuk menjujung tinggi martabat manusia dan untuk memuliakan nama Tuhan.

Senin, 23 Mei 2011

AJARAN YESUS KRISTUS


I SUMBER SUMBER


Ajaran Tuhan Yesus disajikan terutama dalam ke-empat Kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Meskipun demikian dalam kitab-kitab PB (Perjanjian Baru) lainnya Kisah Para Rasul s/d Wahyu, juga mengukuhkan inti ajaran-ajaran Yesus Kristus seperti dalam kitab-kitab Injil. Semuanya berdasarkan pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus Kristus. Maka, tulisan-tulisan dalam PB merupakan data yang penting.

Ada banyak usaha untuk membuktikan bahwa tulisan-tulisan para rasul, khususnya Paulus, memberitahukan Injil yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Namun usaha-usaha tersebut gagal totaL. Ada kesatuan hakiki antara ajaran Tuhan Yesus Kristus, dengan ajaran rasul Paulus dan gereja perdana (mula-mula).


MENGAPA ADA PERBEDAAN 3 INJIL SINOPTIK DENGAN INJIL YOHANES?

Mengandaikan ada pertentangan antara ajaran Yesus dalam Injil Sinoptik dengan ajaraNya yang disajikan dalam Injil Yohanes, itu hanyalah lahiriah saja. Memang benar bahwa Injil Yohanes lebih banyak memberi perhatian kepada ajaran Yesus yang bersifat ‘metafisika’ dan mencatat lebih banyak percakapan yang didalamnya Tuhan Yesus langsung berbicara mengenai diriNya sendiri dan hubunganNya dengan Allah. Juga benar ada perbedaan aksen dab tekanan; tapi ajaran Yesus dalam Injil Sinoptik dan Injil Yohanes pada dasarnya adalah sama. Bandingkan dengan :

Matius 11:25-30; 12:50; 14:33; 16:16; 17:5; 25:34; 26:39,63-65; 27:43; 28:18-20
Markus 1:1,11; 2:5,10; 8:29,38; 9:7; 10:29-30; 12:6,35-37; 13:26,31-32; 14:36,61-64; 15:39
Lukas 1:30-35; 2:49; 3:23,38; 9:23-26; 10:21-24; 22:69-71; 23:46; 24:36-53
Dan seterusnya, dengan injil keempat (Yohanes).

Setiap penulis Kitab Injil mempunyai tujuan khusus, dan untuk mencapai tujuan itu masing-masing memilih sendiri ajaran Yesus yang cocok dengan tujuan itu. Dengan cara kerja demikian kitab-kitab Injil saling melengkapi dan tidak bertentangan satu-sama-lain. Kitab-kitab Injil bersama-sama memberikan laporan lengkap dan menakjubkan tentang inti ajaran Tuhan Yesus Kristus. Jika kita meneliti kitab-kitab PB lainnya, juga hidup dan ajaran gereja perdana (mula-mula), maka nampak jelas betapa teguhnya ajaran dan praktek gereja perdana didasarkan pada ajaran Kristus yang disajikan.

II. AJARAN YESUS TIADA TARANYA


Bahwa Tuhan Yesus berbicara dalam bahasa yang lazim pada zamanNya (harfiah dan kiasan), dan bahwa bentuk lahiriah ajaranNya sering senada dengan para rabi Yahudi dan guru-guru agama lain pada zamanNya, disetujui secara luas. Tetapi pokok ajaran Yesus Kristus adalah total baru dan revolusioner. Ucapan orang-orang Yahudi yang dikerahkan untuk menangkap Dia tetap benar, bahkan dalam arti yang lebih luas dan lebih dalam daripada pemahaman mereka, ‘Belum pernah seorang berkata seperti itu!’ (Yohanes 7:46 bandingkan dengan Matius 7:28, Markus 1:22). Justru sia-sia menganggap bahwa ajaran Yesus hanyalah merupakan perkembangan wajar dari ajaran Yahudi yang terbaik di zamanNya, atau paling tidak mengungguli maupun menyamai karya persekutuan Qumran atau sekte Yahudi yang lain. Kesamaan antara ajaranNya dengan ajaran-ajaran sekolah rabi atau sekte-sekte agama di Palestina pada waktu itu, timbul dari kenyataan bahwa Dia hidup dan mengajar dalam kerangka sejarah yang sama. Tapi dasar ajaranNya bukan hanya baru tetapi khas unik.
III. METODE PENGAJARAN KRISTUS


Tuhan Yesus memakai beberapa metode mengajar untuk menyesuaikan ajaranNya dengan keadaan-keadaan tertentu :

1. Ia membaca kitab-kitab PL di sinagoge dan menerangkannya kepada jemaat (Lukas 4:16-32);
2. Ia mengajar di lapangan terbuka, seperti saat ia mengucapkan Khotbah di Bukit yang tak-ada taranya itu, yang dialamatkan terrutama kepada murid-muridNya, tetapi didengar oleh banyak pendengar lain (Matius 5:1-7; Lukas 6:17-49);
3. Ia bicara langsung dan secara pribadi kepada orang-orang tertentu ( Markus 10:21; Lukas 10:30).
4. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memaksa orang berpikir (Lukas 10:26; 12:56-57; Matius 24:45; Markus 4:21).
5. Ia bersoal-jawab dengan lawan-lawanNya untuk menghilangkan pikiran-pikiran mereka yang salah. Dia terlibat dalam perdebatan dimana Ia membuktikan kebebalan pikiran lawan-lawanNya dengan logika yang tak dapat ditolak (Markus 12:18-27; Lukas 20:41-44).
6. Ia mengemukakan paradoks-paradoks dan ucapan-ucapan pendek yang tajam untuk mengukir kebenaran-kebenaran luhur tertentu dalam hati murid-muridNya (Matius 5:3-4; Lukas 9:24; 20:25).
7. Ia sering mengutip PL (Perjanjian Lama) (Markus 12:24-27, 35-37; Lukas 4:4-8,12).
8. Ia menggunakan alat peraga (Yohanes 13:1-15; Matius 8:2-4; 21:18-22).
9. Ia berbicara lebih akrab dan gamblang dengan kelompok murid-muridNya (Matius 17:9-13; Markus 12:43-44; Yohanes 13:1-17:26).
10. Ia mengemukakan ucapan-ucapan penting yang mengandung nubuat (Matius 24:5-44; Markus 13:1-37; Lukas 21:5-36)
11. Ia sering mengajarkan kepada murid-muridNya perihal diriNya dengan artian sungguh-sungguh ‘bersifat metafisika’ (Matius 11:25-27; Lukas 10:21-22; Yohanes 5:16-47; 6:32-71).
12. Ia sering mengajar dengan menggunakan perumpamaan yang menyertai seluruh ajaranNya ialah kekuasaanNya yang khas. Nabi-nabi PL berbicara dengan wibawa yang mereka terima, tetapi Yesus Kristus berbicara dengan wibawa-ilahi, mutlak dan dari diriNya sendiri

(Sumber JN Geldenhuys, Supreme Authority, 1953, ps. 1)

IV. JENIS-JENIS AJARAN TUHAN YESUS


Tidaklah mungkin ‘mengebiri’ ajaran Yesus menjadi seperti filsafat, teologi atau etika. AjaranNya berbeda sekali daripada setiap orang sebelum dan sesudah Dia. Tetapi kita dapat mengklasifikasikan ajaran Yesus dengan judul-judul berikut :

1. ETIKA :
Matius 5-7;
Lukas 6:17-49; 11:37-54 dst.

2. METAFISIKA DAN TEOLOGI
Matius 11:25-27
Lukas 10:21-22
Yohanes 6:33-48; 8:58 dst.

3. SOSIAL
Lukas 14:7-14; 20:19-25
Matius 19:3-12 dst.

4. PENYELAMATAN
Matius 9:12-13; 11:28-30; 16:24-26; 20:28
Lukas 9:23-24; 14:15-24; 15:1-32; 18:9-14; 19:9-10
Yohanes 10:1-8 dst.

5. ESKATOLOGI
Matius 24; 25
Markus 13
Lukas 21
Yohanes 14:1-3, dll.

V. TEMA UTAMA


1. Pernyataan diri sebagai Mesias dan Anak Allah

Berbeda dari semua guru agama lain, Yesus tidaklah pertama-tama mengajarkan kebenaran-kebenaran mengenai Allah dan Agama. Inti ajaranNya ialah pengumuman mengenai diriNya sendiri sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia.
Hal itu bukanlah melulu sistem teologi, tapi pernyataan diri. Memang benar Ia tidak secara terbuka dan tidak setiap saat mengumumkan diriNya adalah Mesias dan Anak Allah. Dan karena di benak orang Yahudi terdapat konsep yang salah dengan watak dan tugas Mesias, maka Ia sangat berhati-hati – tidak memaparkan secara luas ke-mesias-anNya kepada mereka. Tetapi penelitian yang cermat atas ke-empat Injil menyingkapkan bahwa sejak dari awal Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah Anak Allah. Penting diperhatikan bahwa dalam ucapan Yesus yang pertama sekali seperti dicatat dalam Injil, Ia dengan lembut tapi pasti mengingatkan Maria bahwa BapaNya yang sebenarnya ialah Allah (Lukas 2:48-50); dan ucapan-Nya yang terakhir di kayu-salib Ia menyerahkan diriNya kepada Allah : “Ya Bapa, kedalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu” (Lukas 23:46). Dan sesudah kebangkitanNya Ia menugasi Maria Magdalena untuk menyampaikan pesanNya kepada murid-muridNya : “Aku akan pergi kepada Bapaku” (Yohanes 20:17).


2. Allah sebagai Bapa


Ciri paling khas ajaran Tuhan Yesus ialah pengumumanNya bahwa Allah adalah Bapa. Memang, dalam satu-dua ayat di PL, Allah telah dinyatakan sebagai Bapa, tetapi dalam ajaran Yesus ini Allah diperkenalkan lebih sebagai Bapa dari umatNya, Israel, ketimbang Bapa dari pribadi orang percaya.
Yesus mengumumkan Allah sebagai Bapa dalam cara-baru yang bersifat pribadi. Dalam ke-empat Injil ada kira-kira 150 acuan dimana Yesus menyebut Allah sebagai Bapa. Ia mengajarkan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dalam arti khas :

Lukas 2:49; 10:21-22; 20:41-44; 22:29
Matius 11:25-27; 15:13; 16:13-17,27; 21:37; 22:2; 26:29,63-64; 27:43; 28:18-20
Markus 8:38; 12:6,35-37; 13:24-27; 14:61-62;
Yohanes 3:35; 5:18,22-23 dst.

Ia tak pernah menyapakan ke-Bapak-an Allah dalam hubungan terhadap diriNya sendiri dengan ke-Bapak-an Allah dalam hubungan terhadap murid-muridNya atau terhadap manusia lain pada umumnya. Tidak pernah Yesus berdoa kepada Allah dengan ucapan ‘Ya Bapa kami!’, tetapi selalu langsung ‘Ya Bapa’ (Markus 14:36; Matius 11:25; Lukas 10:21; Yohanes 11:41; 17:1-26 dst.).

Jika Yesus berbicara kepada murid-muridNya, Ia tidak pernah menyebut Allah sebagai ‘Bapa kita’, tapi selalu ‘BapaKu’ (Lukas 10:22; Matius11:27; 12:50; Yohanes 20:17) atau ‘Bapamu’ (Markus 11:25-26; Matius 5:45,48 dst). Pembatasan yang demikian jelas perihal hubunganNya dengan Allah, bergema sepanjang ajaranNya, baik dalam Injil-injil sinoptik, maupun Injil ke-empat.
Dalam hal ini Yesus memang unik. Tidak seorangpun guru agama sebelum dan sesudah Dia yang menyatakan hubunganNya mutlak dengan Allah, seperti terungkap dalam kata-kata “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Matius 11:27; bandingkan dengan Lukas 10:22; Markus 8:38; Yohanes 17:1-5 dst.)

Tetapi ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah tidak berhenti pada pengumuman hubunganNya yang khas dengan Allah Bapa. Yesus juga mengajar murid-muridNya mempercayai Allah sebagai Bapa dari semua orang percaya (lihat khususnya di Matius 6:1-34; bandingkan dengan Lukas 6:36). Karena hubungan Allah dengan manusia inilah yang harus mendasari hidup rohani pengikutNya, maka Yesus mengajar mereka berdoa kepada Allah dengan ucapan “Bapa kami” (Matius 6:9). Karena Allah adalah Bapa mereka, mereka tidak usah takut (Matius 10:28-30; 6:26-32); mereka dapat dan harus berdoa dengan iman yang sungguh kepadaNya (Matius 7:7; Lukas 11:9-13). Karena Allah sempurna dalam kasih dan kemurahan, maka mereka harus demikian juga (Matius 5:43-48; Lukas 6:36).

Ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah merupakan pukulan maut terhadap ahli-ahli Taurat, yang sudah membebani agama demikian sarat dengan bentuk-bentuk lahiriah, upacara dan peraturan. Justru Yesus berkata bahwa ajaranNya sedemikian barunya, jadi untuk mendekati Allah, tata cara lama harus dihapus dan diganti dengan tata cara baru melalui Dia (Markus 2:22; Matius 9:14-17; Lukas 5:33-39).

Dengan mengajarkan bahwa hubungan antara Allah dan orang-orang percaya adalah sama dengan hubungan antara seorang ayah dengan anak-anaknya, maka Yesus menyampaikan hubungan Allah dan manusia yang sama-sekali berbeda dengan ajaran agama-agama lain. Karena Allah adalah Bapa yang panjang sabar dan mengasihi, maka masih ada harapan bagi pendosa yang paling besar (bandingkan dengan ajaran Yesus tentang perumpamaan anak yang hilang, yang diterima bapanya dengan welas-asih dipulihkan ke dalam hidup baru oleh bapanya yang pengampun, Lukas 15:11-32).
Sebagai Bapa, Allah memperhatikan bahkan ciptaanNya yang paling kecil sekalipun dan mengasuh semuanya (Matius 6:26; 10:29-30; Lukas 12:24-27). Sebagai Bapa, Ia tahu kebutuhan yang sesungguhnya dari anak-anakNya, karena itu orang percaya tidak usah kuatir atau takut (Lukas 12:4-7, 22-32). Sebagai Bapa, Ia tetap setia terhadap mereka, bahkan di tengah-tengah suasana paling sukar dan berbahaya (Lukas 12:11-12; Markus 13:11).

Tapi serentak Yesus juga mengajarkan dengan gamblang bahwa Allah bukan hanya Bapa yang imanen dan hadir dimana-mana, tapi Allah juga sekaligus Tuhan yang transenden dan mahakuasa atas langit dan bumi (Matius 11:25). Karena itu jika berdoa kepada Allah, kita wajib berkata “Bapa kami yang di Sorga” (Matius 6:9). Dan karena Allah adalah Bapa yang Mahakuasa yang menciptakan dan memelihara segala sesuatu (Lukas 10:21; Matius 19:26), maka tugas mulia dan luhur bagi orang percaya ialah memuliakan atau mengukuskan Nama Allah (Matius 5:16; 6:9; Markus 12:17,30; Lukas 8:39; Yohanes 15:8 ). Melakukan kehendak Bapa bukan lagi menjadi beban yang memberatkan, tetapi hak istimewa dan penuh sukacita (bandingkan kata-kata ‘Jadilah kehendakMu di bumi seperti di Sorga’, Matius 6:10 dan Yohanes 15:10-15). Yang jadi pendorong bagi orang percaya untuk melayani selamanya dan bahkan untuk mengasihi musuhnya, ialah kerinduan menjadi anak-anak yang lauak bagi Bapa sorgawinya (Matius 5:44-48 ).

Ajaran Yesus mengenai ke-Bapak-an Allah memaparkan kebenaran yang menakjubkan, yaitu bahwa demikian kasihnya Allah memelihara orang percaya dan seluruh ciptaan, sehingga bahkan ramput di kepala merekapun Dia hitung ( Matius 10:30), bunga bakung Dia perlengkapi dengan keelokan dan burung terkecil sekalipun Dia asuh (Matius 6:26-30: 10:29). Karena kasih yang demikian, maka tidak ada alasan bagi orang percaya untuk kuatir akan kebutuhan pribadinya maupun kebutuhan lainnya, juga tentang hari yang akan datang (Matius 6:25, 34). Jika orang percaya menempatkan hidupnya, maka Dia akan memelihara mereka dalam setiap keadaan, bahkan keadaan yang paling gawat sekalipun (Markus 13:11, Lukas 12:4-12; 21:18 ).

Pada pihak lain, juga sama jelas dan gamblangnya, Yesus mengajarkan bahwa barangsiapa menolak Dia dan tidak mentaati Allah Bapa, orang-orang yang menolak kasih karuniaNya yang menyelamatkan, ajan langsung menghadap hukuman yang tidak terelakkan (Matius 8:12; 21:43-45; 22:13; 25:30, 41-46; Markus 8:38; 12:9-12; 13-26 dab; Lukas 13:27 dab, 34 dab; 19:27; 21:20-24). Ia tidak membiarkan pendengarNya ragu sedikitpun, bahwa tujuan akhir manusia tergantung pada sikap mereka terhadap Dia dan perkataanNya (Markus 8:38; 10:29 dab; 12:6-11; Lukas 9:26; Yohanes 12:48; 14:6, 21-24; 15:22 dab). Ia datang untuk memberi nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45; Matius 20:28; 26:28; Yohanes 10:11), dan karena Allah Bapa sudah menyerahkan segala sesuatu kepada Dia, maka Ia mengundang semua orang datang kepadaNya untuk beroleh hidup yang kekal (Matius 11:27-28; 22:1-10; 25:1-12; Yohanes 6:35-37). Mencari dan menyelamatkan orang yang hilang adalah keinginan yang sungguh dan kesukaan besar bagi BapaNya dan Dia sendiri (Matius 22:4, 9; Markus 10:45; Lukas 12:32; 15:1-32; 19:10; Yohans 3:16 dab); tapi barangsiapa menolak penyelamatan ini, berarti mendatangkan dapa dirinya kebinasaan yang kekal (Markus 12:9; Matius 22:7, 13; 25:30,41,46; Yohanes 8:24).

Sebagai Anak Manusia, yang kepadaNya telah diberikan kuasa atas Alam semesta (Yohanes 5:25 bandingkan dengan Daniel 7:13 dan ayat berikutnya), Yesus mengajar bahwa Dia-lah yang akan melaksanakan penghakiman pada saatnya segala sesuatu akan digenapi. Dia akan berkata kepada orang-orang benar, “Mari, hai kaum yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu….” (Matius 25:34, dan kepada orang-orang fasik “Enyahlah dari hadapanku, hai kamu orang-orang terkutuk” (Matius 25:41). Sikap orang terhadap Dia dan terhadap ‘saudara-saudaraNya’ yang dinyatakan dalam hidup harian orang itu, akan dijadikan patokan yang menentukan pada hari penghakiman (Matius 25:31-46; Markus 9:37, 41; Lukas 10:10-16; Yohanes 8:51; 12:26; 15:23 dab), Sebab Yesus bukan tukang sulap, juga bukan melulu Mesias orang Yahudi saja, tapi Anak-Allah yang kepadaNya telah diberikan segala kuasa yang ada di Sorga dan di bumi (Matius 11:27; 28:18-20; Lukas 10:22; Markus 12:6; Yohanes 3:34-46; 5:17-27; 8:58; 10:30 ).

VI. TEMA-TEMA LAIN YANG PENTING


Sesudah meneliti tempat paling mulia yang diberikan kepada ke-Bapak-an Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, marilah meneliti tema-tema lain yang penting,


A. KERAJAAN ALLAH

Markus 1:15 mencatat Yesus memulai pelayananNya di muka umum dengan memberitakan kabar gembira dari Allah dakam kata-kata “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Beberapa hari sebelumnya, yaitu sesudah Yesua dibabtis, seruan dari Sorga, menyatakan kepadaNya “Engkaulah AnakKu yang Kukasihi, kepadaMulah Aku berkenan” (Markus 1:11). Untuk mengerti ajaran Yesus tentang Kerajaan Allah, penting sekali mempelajari hubungan erat antara kesadaranNya akan ke-Anak-an-Nya yang khas dengan pemberiraanNya perihal kabar baik tentang kerajaan Allah.

Ungkapan ‘Kerajaan Allah’ atau ‘Kerajaan Sorga’ (ungkapan terakhir paling disukai Matius) dipakai oleh Yesus dalam aneka ragam Arti (Raja, Kerajaan Allah/Sorga). Pada dasarnya ungkapan itu mengartikan pemerintahan yang berdaulat, kuasa rajawi Allah, yang secara khas dimanifestasikan dalam pelayanan Yesus, dan yang ditentukan akan ditegakkan genap seutuhnya pada saat Anak Manusia dinyatakan dalam kemuliaanNya. Karena pemerintahan rajawi Allah adalah atas hidup manusia, maka keselamatan ditawarkan kepada semua orang yang bertobat dari dosa-dosanya dan yang percaya kepada Yesus Kristus; Jadi, Tuhan Yesus memulai pelayananNya di muka umum dengan memberitakan ini sebagai kabar baik (Markus 1:14-15; Matius 4:17-23).

Pada zaman Yesus pemikiran yang merajai benak orang Yahudi tentang Kerajaan Allah ialah pemikiran materialistis – keyakinan bahwa Allah akan membangun suatu kerajaan duniawi, dan melalui Mesias – raja kerajaan duniawi itu – akan memerintah seluruh dunia dan akan menjadikan Yahudi menjadi bangsa penguasa atas semua bangsa lain.
Segi-segi spiritual pemerintahan Allah seperti telah disinggung samar-samar dalam beberapa bagian PL, dan yang disinggung samar-samar dalam beberapa bagian PL, dan yang disinggung lebih jelas di tempat-tempat lain, umumnya dilupakan. Tapi Yesus tidak hanya mengumumkan sifat rohani pemerintahan Allah, Ia juga memberikan kepada istilah ‘Kerajaan Allah’ makna baru yang revolusioner. Kedaulatan ilahi yang Dia umumkan ialah kedaulatan BapaNya, dan tak dapat dipisahkan dari diri dan pekerjaan Yesus sendiri sebagai Anak yang dikasihi Allah (Markus 1:11, 15, 17; 13:26, Matus 7:21-27; 10:40; 11:27; 12:28-30; Lukas 10:16-24; 11:20-23; 21:27,31; 22:29-30: Yohanes 5:36; 10:30, 37-38 ).

Ajaran Yesus bahwa pemerintahan rajawi Allah telah menjadi fakta nyata dalam diri Yesus sendiri dan dalam pelayananNya (Markus 1:15; Matius 11:27; 12:28; 13:17; Lukas 4:21; 10:17-24; 11:20), dan jika manusia mau bertobat dan percaya, maka ia akan beroleh bagian dalam berkat-berkat kemenangan yang menyertai kerajaan itu (Markus 1:15; 2:9-12; 10:45; Matius 11:28; 22:10; Lukas 5:32; 7:48-50; 15:1-32; 18:13-14; Yohanes 5:27-29; 14:2-3).

Kerajaan Allah – dipandang sebagai kumpulan dari semua berkat ilahi yang bisa diperoleh – dinyatakan oleh Yesus sebagai harta yang sangat berharga untuk dimiliki dan tiada taranya (matius 13:44-46; Lukas 12:31). Karena itu ia menghimbau pengikutNya supaya bersedia menderita demi Dia, dan untuk mengorbankan bahkan hidup mereka sendiri guna menjadi anggota yang sungguh dari Kerajaan Allah itu (Markus 8:34-38, Lukas 9:23-26; 12:4-9, 32; 17:33; Matius 16:24-27; Yohanes 15:18-21; 16:33; 21:18-19).

Asas dari seluruh ajaranNya mengenai Kerajaan Allah, ialah pernyataanNya yang tandas gamblang bahwa Dia Anak Allah dan bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya (bandingkan dengan Matius 6:10-11; 7:21-22; 10:32-40; 11:27; 28:18; Markus 12:6; 13:26; Lukas 10:22; Yohanes 10:27-30; 17:1-2).

B. ANAK MANUSIA



Yesus sering menyebut diriNya Anak Manusia. Dalam Markus 8:38; 13:26; 14:62, Lukas 17:24; 21:27 dst. Ia memakai jelas sebutan itu untuk menerangkan watak dan misiNya berkaitan dengan pengelihatan dalam Daniel 7:13 dan ayat berikutnya “tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusi…. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang keka….”. Dengan menyamakan diriNya ‘Anak Manusia’ yang kepadaNya telah diberikan kuasa yang kekal untuk memerintah semua bangsa, Yesus mengumumkan bahwa Dia-lah Mesias yang ditentukan Allah, dan bahwa pada akhirnya Dia pasti menang, walaupun musuh-musuhNya kelihatannya menag dan pengikutNya tak berdaya. Anak Manusia yang merendahkan diriNya menjadi manusia adalah serentak Pemenang yang kekal (Matius 24:30).

Tuhan Yesus memberikan juga artian baru dan yang lebih luas pada istilah Perjanjian Lama (PL) ‘Anak Manusia’ itu. Ini jelas dari kenyataan betapa seringnya Ia memakai sebutan khas ini mengacu kepada diriNya berkaitan dengan keharusanNya menderita dan mati di kayu salib (Markus 8:31; 9:31; 10:33; 14:21, 41; Lukas 18:31; 19:10, Matius 20:18, 28; 26:45). Melalui penyamaan diriNya denga manusia berdosa maka ‘Anak Manusia juga, datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang’ (Markus 10:45; bandingkan dengan Yohanes 1o:11, 15). Tapi juga mengajarkan bahwa penderitaanNya akan disusuli kebangkitanNya (Matius 20:18-19; Markus 8:31; 10:33-34; Lukas 18:31-22), dan bahwa pada penggenapan segala sesuatu akan dinyatakan kemengangan akhir bagi diriNya dan pengikutNya (Lukas 21:25-28; 22:29-30; Markus 13:26-27; 14:24-25, 62; Lihat Yohanes 13:31-32).

C. Ke-MESIAS-an YESUS


Adalah jelas bahwa Yesus mengajar murid-muridNya untuk mempercayai bahwa Dia-lah Mesias atau Kristus (artinya : Raja yang diurapi) yang datang dari Allah. Tapi karena luasnya salah pemahaman mengenai Mesias diantara orang Yahudi (bandingkan dengan Yohanes 6:15), maka Ia melarang keras membicarakan ke-Mesias-an-Nya di muka umum (Markus 9:7-9; Matius 16:20; 17:9). Baru sesudah Ia menyelesaikan misi pelayananNya untuk menderita di kayu salib, Ia mengumumkan secara terbuka perananNya sebagai Raja-Mesias, saat Ia dielu-elukan memasuki Yerusalem (Matius 21:1-11; Markus 11:1-18; Lukas 19:1-48, Yohanes 12:12-50). Dihadapan hakim-hakim yang mengadiliNya dengan tegas Ia menyatakan bahwa memang Dia adalah Mesias/Kristus (Matius 26:63-64; Markus 14:61-62; Lukas 22:69-71; 23:2-3), tapi Dia bukan Mesias duniawi seperti yang diharapkan orang Yahudi (Yohanes 18:26).

Penting diperhatikan, Yesus tidak mengajarkan bahwa karena Dia adalah Mesias maka Dia adalah Anak Allah. Sebaliknya dasar ajaranNya ialah bahwa Dia adalah Anak Allah dalam arti mutlak (bandingkan dengan Matius 27:43; 11:27; 24:36, Markus 13:32 dst), dan karena Dia adalah Anak Allah maka Dia adalah Mesias yang sesungguhnya, yang diurapi Allah. Pertama-tama yang paling asasi Dia adalah Anak Tunggal Allah.

D. KEMATIAN YESUS


Menurut ke-empat Injil Yesus mengajarkan bahwa Dia akan menderita sengsara dan akan mati. Ia memberi banyak perhatian pada kamatianNya yang akan menyusul itu, terutama pada masa-masa khir pelayananNya (Matius 16:21; Markus 8:31; 9:31; 10:33-34; Lukas 9:22, 44; 12:37; Yohanes 6:51; 10:11-19). Tapi menjelang kurun waktu Markus 2:2o Ia mulai mempersiapkan murid-muridNya untuk siap menerima kenyataan yang akan terjadi, yakni bahwa Ia harus menderita dan mati. Ia menekankan bahwa penderitaanNya adalah sesuai kehendak Allah dan dalam hal itu Dia sendiri ikhlas memilih untuk menanggung sengsara dan mati demi umatNya (Markus 10:45; 14:24; Yohanes 10:11-18 ).

Ucapan Tuhan Yesus yang menetapkan pelembagaan Perjamuan Kudus jelas menyatakan hakekat kematianNya di kayu salib adalah pengorbanan. Ia memberikan raga-Nya untuk disiksa demi umat manusia, dan darahNya untuk dicurahkan demi keselamatan yang kekal (Lukas 22:19-20; Matius 26:27-28; Markus 14:22-24, bandingkan dengan Yohanes 14:2; 10:15; 19:30). KematianNya memungkinkan tersedianya pengampunan dosa (Matius 26:27-28 ), dan perjanjian baru antara Allah dan manusia diadakan (Lukas 22:20). Justru Yesus mengajarkan bahwa melalui kematianNya tersedia berkat abadi bagi banyak orang dan tercipta hubungan baru antara Allah dan manusia – melalui pengampunan dosa hasil karya pengorbananNya menyerahkan nyawaNya menjadi korban tebusan dosa. Bahasa yang Ia gunakan untuk mengungkapkan hal ini jelas diwarnai gambaran Hamba YHVH yang menderita sengsara karena menanggung hukuman dosa bagi banyak orang dan memberi mereka kebenaran (Yesaya 52:13-53:12).
E. PERISTIWA-PERISTIWA YANG AKAN DATANG


Yesus tidak hanya mengajarkan bahwa Dia akan menderita sengsara dan akan mati; banyak lagi yang Dia ajarkan berkaitan dengan ihwal yang akan terjadi pada waktu dekat dan pada masa depan yang masih jauh.

Pertama, Ia mengajarkan bahwa kendati Dia harus memberikan nyawaNya dan mati sebagai tebusan bagi banyak orang, Dia akan bangkit dari antara orang mati (Markus 9:9 dst).

Kedua, berulang0kali Dia ajarkan bahwa kendati begitu besarnya kebencian dan kekuasaan musuh-musuhNya, dan kendati nampaknya Ia seperti bertekuk lutut di dawah kuasa mereka, pada akhirnya Dia-lah pemenang. Penelitian yang cermat akan ajaranNya berkaitan dengan eskatologi dalam Matius 24; Markus 13; Lukas 21:5-36, dan ucapan-ucapanNya yang lain, mengungkapkan bahwa kemenanganNya atas seluruh kuasa kejahatan dan pernyataan kuasa ke-Allah-an-Nya dinyatakanNya sebagai sesuatu yang akan menjadi kenyataan praktis dalam tahapan yang berurutan. Pada dasarnya kemenanganNya sudah menjadi realitas mulia (Lukas 10:17-22; Matius 11:27; 28:18-20; Yohanes 6:35-39). Tapi murid-muridNya masih harus menghadapi banyak cobaan sebelum Ia datang dalam kemuliaan untuk kedua kalinya (Matius 10:16-23; Markus 13:5-13; Yohanes 16:33; Lukas 21:12-25, 26).

Yesus mengucapkan bahwa dalam arti tertentu murid-muridNya dan musuh-musuhNya akan segera mengalami kenyataan kuasa kedaulatanNya (Matius 10:23; 16:28; Markus 9:1; Lukas 22:69 dst). Dan ini benar-benar digenapi dalam peristiwa-peristiwa yang menyertai kematianNya (Matius 27:45,51 dab; Markus 15:33, 38 dab; Lukas 23:44 dab) dan kebangkitanNya dan kenaikanNya (Matius 28:1-10; Lukas 24: Kisah 1:9), pada hari Pentakosta, sebagai penggenapan janjiNya mengenai Roh Kudus (Kisah 2:1-36 bandingkan dengan Yohanes 16:7-22, Lukas 24:49), dalam pendirian gerejaNya dan perkembangannya yang tak terhalangi itu (Kisah 2:37-47 dan bagian dalam Kitab Kisah Para Rasul yang lain), dalam hukuman yang menimpa musuh-musuhNya dalam kemusnahan Yerusalem dan Bait Suci, juga nasip bangsa Yahudi yang begitu memilukan. Dalam semua peristiwa historis itu Kerajaan Allah dimanifestasikan sesuai ajaran nubuat Yesus (Markus 12:9; 13:2,14-23; Matius 21:43,44; 23:27-39; 24:1-25; Lukas 19:41-44; 21:5-6,20-24).

Jika Yesus berbicara tentang kedatangan Kerajaan Allah dan pernyataan kuasa ilahiNya, Dia sering menunjuk jauh ke masa yang akan datang – jauh dari pernyataan awal kuasaNya itu. Ia mengajarkan bahwa Kerajaan Allah akan datang dalam kemuliaan yang sempurna, dan pada saat itu kedaulatan pemerintahan Bapa akan dinyatakan dalam Anak meliputi alam semesta dan segenap matra kehidupan (Matius 24:29-31; 25:31-34; Markus 13:24-27; Lukas 21:25-27; Yohanes 5:28-29; 6:44; 14:2-3). Dari ucapan-ucapanNya dalam Markus 13:7,10; 14:9; Matius 24:14,36-51; 25:1-46 (perhatikan khususnya dalam Matius, yang mengajarkan bahwa kedatangan final Kerajaan Allah tidak akan terjadi pada waktu itu.

Untuk mengamati ajaran Tuhan Yesus mengenai masa yang akan datang, perlu kita perhatikan berbagai segi yang dibicarakanNya perihal kedatangan kerajaan Allah. Tentang beberapa hal Yesus nampaknya menyatakan pemerintahan Allah kini dan disini – pada satu sisi dalam karya penyelamatanNya dan pada sisi lain dalam tindakan penghakimanNya. Pada segi-segi lainnya yang terutama ditekankan ialah keadaan tragis yang akan menimpa bangsa Yahudi, Yerusalem dan Bait Suci akibat terus-menerus menolak Yesus sebagai Mesias. Tetapi sebagai puncak gunung yang mengungguli semua puncak gunung lainnya nampak jaya perkasa, demikianlah nubuat Tuhan Yesus yang menjangkau masa yang akan datang, baik yang sudah dekat maupun yang masih jauh ke depan, mencakup yang lokal maupun yang nasional menuju penggenapan universal pada hari terakhir. Pada saat itu Bapa akan membuktikan dan mensahihkan Yesus adalah AnakNya sekali untuk selama-lamanya, dengan menyatakan dan memanifestasikan kemuliaan Yesus yang kepadaNya Bapa berikan pemerintahanNya yang kekal meliputi alam semesta (bandingkan khususnya Lukas 21:5-27).

VII. BUKTI-BUKTI YANG MEMBENARKAN AJARAN YESUS KRISTUS


Kebenaran ajaran Tuhan Yesus Kristus mengenai masa yang akan datang telah dibuktikan oleh fakta-fakta historis. Masih banyak lagi yang dapat dikemukakan untuk membuktikan kebenaran nubuatNya. Penggenapan pra-ucapanNya dalam Lukas 21:24 (bandingkan Markus 13:2 dst) merupakan contoh nubuat kongkret yang digenapi tepat sekali. Sejak Yerusalem dimusnahkan oleh tentara Romawi tahun 70M, wilayah kota lama – Yerusalem asli – ‘diinjak-injak oleh bangsa-bangsa (yang tidak mengenal Allah)’ (Lukas 21:24) sepanjang 19 abad yang lewat, sampai zaman kita.

Dengan cara-cara lain kebenaran ajaran Tuhan Yesus sebagai keseluruhan juga sudah terbukti. Diatas segala-galanya, Allah Bapa sendiri meneguhkan ajaran AnakNya sbb :

1. Mengumumkan dari Sorga baik pada waktu babtisan maupun pada permuliaan di atas gunung, bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi Allah dan yang kepadaNya Allah berkenan (Markus 1:11; 9:7 dab).

2. Memberi Yesus kuasa untuk melakukan mujizat-mujizat yang tiada taranya, dan dengan demikian menyatakan kuasa keilahianNya atas penyakit rohani dan penyakit badani; kuasa atas alam (mengubah air menjadi anggur, menghentikan angin topan dsb.); kuasa atas kematian badani dan rohani (membangkitkan orang mati, mengampuni orang berdosa dan mengubah hidup mereka).

3. Membangkitkan Yesus dari kematian dan meninggikan Dia di tempat yang paling mulia di sebelah-kananNya.

4. Mujizat pada hari Pentakosta pertama, yang mengubah murid-muridNya yang jumlahnya sangan kecil dan tak berarti itu menjadi pembangun gereja/jemaat.

5. Mengendalikan sejarah umat manusia dan bangsa-bangsa sedemikian rupa, sehingga nubuat Yesus mengenai masa yang akan datang sudah digenapi atau sedang dalam proses penggenapan. Umpamanya, Tuhan Yesus mengajarkan , walaupun pengikutNya akan mengalami banyak penderitaan, toh gereja-Nya tidak akan lenyap, tapi sebaliknya akan terus memebritakan Injil di wilayah yang makin luas ‘di seluruh sunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa; sesudah itu barulah tiba kesudahannya’ (Matius 24:14). Sewaktu Yesus mengucapkan kata-kata emas itu, nampak – sejauh nalar manusiawi – segala sesuatu menentang terjadinya bubuat ini. Tapi kendati semua kendala itu, dan kendati waktu telah berjalan 2000 tahun, gereja Tuhan terus dibimbing dan dilindungi oleh Allah, dan kini gereja memberitakan Injil kepada lebih banyak bangsa daripada tahun-tahun sebelumnya.

6. Terciptanya dan terpeliharanya Perjanjian Baru (PB), yang bersama Perjanjian Lama (PL) merupakan Firman Allah yang lengkap seutuhnya, dan yang memproklamasikan Yesus sebagai pusat dari segala sesuatu, manunggal dengan Bapa dan Roh Kudus (Matius 28:18-20; 2 Korintus 13:13).

7. Kebenaran ajaran Tuhan Yesus Kristus terungkap nyata dan berakar teguh dalam hidup orang percaya dan gereja oleh Roh Kudus yang tinggal dan menghidupinya. Dengan demikian janjiNya yang diucapkan dalam Yohanes 15:26 dan 16:13-15 terus digenapi, dengan ucapanNya dalam Yohanes 14:25-26 “ Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (bandingkan dengan Kisah 1:4,5,8

Selasa, 17 Mei 2011

Menunggu Dengan Sabar

Setiap kita pasti mengalami persoalan-persoalan hidup yang membuat hidup kita terasa sukar. Pada saat-saat seperti itu kita pasti menantikan datangnya pertolongan Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana kita menunggu dan mengalami pertolongan Tuhan itu? Ketika kita ada dalam satu persoalan hidup yang berat, yang harus kita percayai adalah pribadi Allah yang tidak mungkin membiarkan kita menghadapi cobaan yang melebihi kekuatan kita. Namun kadang kita menjadi lemah dan putus asa ketika persoalan itu menjadi semakin berat, sementara kita berdoa tak kunjung datang pertolongan-Nya. Untuk ini kita perlu belajar bagaimana caranya menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut. Ada beberapa sikap hati yang harus kita terapkan di sini dalam menunggu dengan tenang datangnya pertolongan Tuhan tersebut.

Yang Lumpuh Dan Bisa Berjalan Lagi

 YESUS SAYANG PATORANG-Aku tak pernah mengira bahwa satu waktu dalam hidupku aku akan menjadi orang yang tidak berguna. Pada saat usia kehamilanku mencapai 2 bulan, aku mengalami pendarahan. Sejak kejadian itu, dokter menyatakan bahwa aku mengalami sakit yang aneh. Seluruh badanku memang terasa sakit dan menurut analisa dokter, aku mengalami  infeksi kandungan karena waktu dikuret tidak bersih. Obat demi obat sudah aku minum tetapi aku tidak kunjung sembuh. Aku mencoba mendapatkan diagnosa dari berbagai dokter. Namun tidak ada kepastian mengenai penyakit yang aku derita.
Satu kali, aku ingin membuatkan anakku Indomie rebus. Jadi, aku tuang air panas dari termos ke atas mangkok berisi Indomie, yang aku taruh di atas pangkuanku. Saat air panas dituang, mangkok sedikit goyang dan mengenai pahaku. Aku pun bergerak refleks tetapi air panas itu malah tumpah semua dan mangkok pun jatuh ke lantai. Karena peristiwa itu, aku merasa kesakitan dan shock. Sebagai seorang mama, aku merasa tidak berguna karena untuk menyiapkan Indomie rebus buat anakku saja, aku tidak mampu. Jadi, untuk apalagi aku hidup?
Beberapa waktu kemudian, seorang temanku merekomendasikan nama seorang dokter spesialis tulang yang sangat terkenal dan dengan berbekal informasi ini, aku memberanikan diri sekali lagi pergi ke dokter. Aku berharap aku bisa bebas dari penderitaan yang sudah berjalan selama 2 tahun ini. Namun sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan justru aku terima. "Kedua tulang pinggul Ibu Lily sudah rusak dan hancur. Ibu mengalami osteoporosis dan tulang sendi yang berbentuk bulat pun sudah tidak ada bantalannya lagi karena remuk", kata dokter spesialis itu kepadaku dan suamiku.
Dokter menyarankan, agar tulang panggulku segera dipotong dan diganti dengan tulang dari bahan titanium. Untuk itu, aku harus menjalani operasi yang menelan biaya hampir Rp. 200 juta!  Masih menurut dokter, pasca operasi, si pasien kemungkinan besar akan lumpuh total dan bahkan pada akhirnya meninggal muda. Dokter lalu melanjutkan penjelasannya: "Kalau untuk penyembuhan seperti ini sangat sulit. Bahkan pengobatan yang bertahun-tahun pun belum tentu membawa kesembuhan bagi si pasien. Apalagi, si pasien harus diberikan suntikan yang berkali-kali. Menurut prediksi saya, sudah paling top bila Ibu Lily bisa mencapai umur 38 tahun".
Penuturan dokter membuatku seakan-akan tahu hari kematianku dan aku tidak punya harapan lagi untuk bisa hidup. Hanya di dalam doa, aku bisa berseru kepada Tuhan: "Aku akan meninggalkan anak-anakku. Namun kenapa Engkau, Tuhan mau mengambilku yang masih harus mendidik dan membesarkan anak-anaku? Aku ingin hidup lebih lama karena tugasku di dunia belum selesai..."  Walaupun aku tahu bahwa aku bakalan lumpuh dari mulai pinggul dan merembet hingga ke tulang belakang, aku tetap masih menyimpan harapan kepada Tuhan.
Atas permintaanku, suamiku membelikan aku sebuah lukisan Yesus dan menempelkannya pada dinding kamar kami. Lukisan itu mengingatkan aku akan kebaikan Tuhan dalam hidupku dan aku teringat kembali akan firman Tuhan yang sudah pernah aku dengar bahwa Tuhan sanggup menyembuhkanku. Aku merasa bersalah selama ini karena aku tidak percaya dan aku meninggalkan Tuhan.
Sampai satu hari, seorang teman suamiku datang ke rumah dan menawari 2 tiket untuk hadir di ibadah kesembuhan di Ancol oleh hamba Tuhan dari luar negeri, yang luar biasa dan sudah ditunggu-tunggu banyak orang. Akhirnya kami ambil tiket itu dan bersama-sama pergi ke sana. Namun di sana aku malah ditaruh di kumpulan orang-orang yang memakai kursi roda. Dalam hati aku mengeluh: "Aduh, koq seperti ini, ya. Aku masih muda tapi koq udah parah banget." Malam itu, aku tidak menerima kesembuhan dan aku pulang ke rumah dengan badan yang cape dan lemas.
Hari kedua aku tidak mau datang karena merasa kecewa dan aku merasa Tuhan tidak sayang padaku. Suami sempat bingung karena aku tidak mau pergi. Namun teman-teman kami terus berusaha membujuk. Mereka berdoa dan mengatakan bahwa masih ada peluang di hari ketiga, yaitu esok harinya. Seorang hamba Tuhan bahkan bernubuat: "Kamu harus datang karena kamu pasti disembuhkan pada hari ketiga," katanya. Aku pun semangat lagi dan yakin bahwa hari terakhir adalah kesempatan terakhir bagiku.
Keesokan harinya kami pergi ke ibadah kesembuhan dan pada pukul 4 sore, seorang nenek mendekati kami dan menanyai suamiku. Suamiku kemudian menjelaskan bahwa aku adalah istrinya dan bahwa seluruh sendiku terasa ngilu dan tidak bisa digerakkan lagi. Lalu sang nenek bersimpuh di dekat kakiku dan berdoa. Dalam doanya, ia mengatakan bahwa Tuhan sanggup melakukan mukjizat dan Tuhan sanggup membangkitkan orang yang lumpuh. Doanya benar-benar membuatku yakin bahwa Tuhan sanggup sembuhkan aku dan pada saat itu di pikiranku sama sekali tidak ada keraguan. Seperti orang normal yang diperintahkan untuk berdiri, aku lalu mencoba berdiri dan aku bisa berdiri tanpa rasa sakit!
Lalu si nenek menantang aku untuk terus berjalan dan berjalan. Puji Tuhan! Setiap langkah aku berkata: "Puji Tuhan. Tuhan luar biasa, Tuhan dahsyat!" Aku benar-benar merasakan Tuhan itu ada dan Tuhan itu ajaib. Ketika aku pergi ke dokter, ia merasa kagum dan kaget melihat aku bisa sembuh. "Saya turut berbahagia dan saya yakin semua berkat Tuhan Yesus," ujar dokter yang memeriksaku. Suamiku pun merasakan sukacita yang aku rasakan: "Sebagai seorang suami melihat pendamping hidup saya sudah sembuh, saya senang sekali. Kehidupan saya sebagai suami jadi normal kembali. Apalagi, Tuhan mengizinkan istri saya bisa bekerja kembali dan keluarga juga bisa diberkati". 
Bagiku, kebaikan Tuhan itu luar biasa. Kalau dulu aku berharap kepada manusia tetapi ternyata aku salah. Ternyata cuma Tuhan Yesus yang bisa sembuhkan kita dan memberikan mukjizat yang luar biasa. Dan bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang bisa  melakukan perkara yang luar biasa!