God so loved the world That He gave.... God so loved the world That He gave His only Son.... Worthy is The Lamb That was slain.... He's risen from the death.... He is risen.... He's high and lifted up.... Heavens and earth adore....
Jumat, 22 April 2011
Selamat Paskah 2011
YESUS SAYANG PA TORANG
yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."
Karena kasih-NYA begitu besar bagi kita, IA telah mengaruniakan Anak-NYA yang tunggal YESUS KRISTUS, yang rela menderita karena bagi kita orang yang percaya kepada-NYA.
Di masa itu, Pilatus, Gubernur Roma tidak menjatuhkan hukuman apa2 tetapi karena desakan para demonstran, curangnya imam2 kepala dan yang lain didepan Pilatus, mereka menuduh Yesus : mengajak orang tidak membayar pajak, menyesatkan bangsa, dan mengaku sebagai Raja, akhirnya dia menjatuhkan hukuman cambuk. Cambuk yang digunakan adalah seperti yang di film Passion of Christ arahan Mel Gibson. Ada beberapa macam cambuk, tapi yang biasa yang digunakan adalah cambuk yang rada pendek( flagrum atau flagellum) dengan duri/semacam kail yang terbuat dari tulang atau cangkang kerang. Biasanya orang yang dicambuk dilucuti bajunya dan disuruh tengkurap. dicambuk bagian punggung, pantat, dan kaki. Kulit dan daging akan terkelupas meninggalkan luka2 yang dalam dan mengalami pendarahan. Mereka (para algojo) mengatur / menghitung berapa kali cambukan agar Yesus tidak mati dari pendarahan yang berlebihan dan tahan sampai orang disalib.
Bukan cuman cambuk, Yesus juga dimahkotai duri, diludahi, dan terus diejek. Yesus mengalami dua penyiksaan yaitu secara jasmani dan psikologis yang lengkap. Salib adalah hukuman yang paling hina dan juga secara psikologi, Yesus difitnah dan juga ditinggalkan oleh teman2nya/murid2nya. Ini membuat moral seseorang menjadi drop dan kita tahu bahwa tubuh dan jiwa bersangkutan satu sama lain. Tubuh tersiksa kalo jiwa tersiksa dan sebaliknya. Bangsa Roma telah menyempurnakan metode penyaliban, yang mungkin awalnya dari Persia, untuk membuat mati yang amat perlahan dengan sakit yang sangat. Kita tahu bahwa salib adalah hukuman yang paling hina dan untuk penjahat kelas berat saat itu. Hukuman ini sangat hina sehingga ada peraturan di pemerintahan Roma sekitar tahun 43 BC yang menyatakan bahwa penduduk ber-KTP Roma tidak akan menerima hukuman salib biarpun layak.
Untuk lebih menyengsarakan, Yesus memanggul salibnya. Tapi karena berat salib itu sekitar 150 kg, biasanya yang dihukum cuman membawa kayu horizontalnya saja (patibulum) yang beratnya sekitar 30-70 kg). Kayu yang vertical biasanya sudah disediakan ditempat eksekusi. Pengawal/prajurit Roma membawa titulus yang memperlihatkan nama dari terdakwa dan kejahatannya yang kemudian dipaku disalibnya.
Waktu sampai ditempat eksekusi, hukum Roma waktu itu mengatakan bahwa seharusnya terdakwa diberikan anggur asam yang dicampur dengan empedu yang berkasiat sebagai analgesic/pereda rasa sakit.
Yesus kemudian disalib, tangannya direntangkan diatas kayu yang dia bawa, dipaku oleh paku yg panjangnya 7 inch dan diameter 3/8 inch( 1 inch =2.54 cm). Demikian juga dengan kakinya, dipaku dan disandarkan pada sandaran kaki yang kecil.
Selama dikayu salib, masyarakat tidak berhenti2 mengejek…jadi siksaan psikologi juga terus berlanjut. Siksaan psikologi juga terjadi saat Yesus ditelanjangi didepan orang banyak. Untuk menambah beban psikologinya, kadang tentara2 Roma menghadirkan anggota keluarga untuk menontonnya. Selama dikayu salib, biasanya mereka digantung (tergantung tahannya sampai kapan) tetapi biasanya berkisar dari 3 jam sampai 3 hari. Sambil kesakitan, lalat dan serangga biasanya hinggap pada luka2 orang yang disalib, pada matanya, hidung telinga,dan kadang burung pemakan daging juga hinggap.
Lama kelamaan orang yg disalib mengalami trauma dari cambukan2 sebelumnya yg mengeluarkan banyak darah, kehausan yang sangat. Sehingga akhirnya badannya yang ditopang oleh kakinya menjadi lemas dan hilang kekuatan. Sehingga badannya menarik kebawah dan karena kakinya sudah lemas, maka sekarang giliran tangan yang dipaku yang support the body weight. Tetapi karena posisi ini sangat menyakitkan, biasanya posisi sperti ini juga mengakibatkan kesulitan untuk bernafas. Sehingga dia mati perlahan2 dan tentara2 Roma yang ingin mempercepat proses kematian sang terhukum biasanya mematahkan kedua kakinya. Tapi dalam hal ini Yesus tidak dipatahkan kedua kakinya. Ini sejalan dengan peraturan paskah perjanjian lama dimana mereka harus mempersembahkan domba yang tidak bercacat dan tidak ada tulang yang patah. Yesus adalah domba paskah perjanjian Baru. Dulu Tuhan memberikan keselamatan kepada semua rumah yang pintunya dilumuri darah domba paskah, sama dengan sekarang, Tuhan juga memberikan keselamatan yang sempurna kepada setiap mereka "dilumuri" oleh darah anak domba perjanjian baru, yaitu Yesus sendiri.
Setelah kelihatan meninggal, biasanya para prajurit memastikan dengan menusuk lambung sang terhukum dengan tombak. Yesus mengeluarkan air (pericardial fluid) dan darah setelah ditombak.
Dan mayatnya biasanya dibiarkan disalib sampai dimakan binatang/ busuk. Tetapi hukum Roma memperbolehkan pihak keluarga untuk mengambil mayatnya dan dikuburkan seizin dari Gubernur Roma. Dalam kisah Yesus, Yusuf meminta Izin kepada Pilatus.
*Karna Pikiran kotor/jahat manusia => Yesus harus memakai mahkota duri di kepala-Nya*Karna Tangan Manusia yang tidak digunakan untuk kebaikan melainkan untuk kejahatan => Tangan Yesus yg dipaku*Karna Tubuh manusia yang cemar => tubuh Yesus yang tercabik akibat dicambuk*Karna Kaki kita manusia berjalan ke jalan yang tidak baik => kaki Yesus yang dipaku
*Karna pelanggaran, kesesatan, kecemaran kita manusia => Yesus yang menanggung hinaan dll
TERIMA KASIH UNTUK KASIH-MU YA TUHANTERIMA KASIH UNTUK PENGORBANAN-MU BAGI KAMI YA TUHANTERIMA KASIH UNTUK PENGAMPUNAN-MU YA TUHAN
YANG TELAH ENGKAU ANUGERAHKAN BAGI KAMI YANG PERCAYA KEPADA-MUTERPUJILAH ENGKAU YA TUHAN ALLAH SUMBER KASIH & PENGAMPUNAN. AMIN!
Selasa, 19 April 2011
Lampion Paskah Hiasi Perkampungan penduduk
Senin, 18 April 2011
RENCANA TUHAN
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN". (Yesaya 55:8).
Ayat diatas dengan tegas menjelaskan bahwa rancangan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Bagi orang Kristen ayat ini pasti sudah tidak asing lagi. Tanpa dihafalpun sudah terhafal sendiri karena terlalu sering di dengar. Dikatakan memang mudah tapi di praktekkan sangat sulit. Saya jadi teringat apa yang ditulis Yohannes ketika di pulau Patmos.
"Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya". (Wahyu10:10).
Firman Tuhan itu mudah sekali diperkatakan, bahkan cukup enak untuk disampaikan namun pada prakteknya sangat susah, dengan kata lain terasa pahit.
Pada umumnya manusia lebih memilih rancangannya sendiri dari pada rancangan Tuhan. Karena rancangan manusia lebih terfokus kepada hal-hal duniawi sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada hal-hal rohani. Manusia lebih memilih mengembangkan kehidupan jasmani dari pada kehidupan rohani. Contohnya dalam memilih pasangan hidup, manusia lebih cenderung memilih pasangan yang cantik/ganteng, sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada kecantikan rohaniah.
Karena rancangan Tuhan lebih tertuju kepada hal-hal yang bersifat rohani maka orang yang hidup dalam keinginan daging akan sangat sulit mengikutinya. Itulah sebabnya mereka lebih cenderung memilih rancangan sendiri karena rancangan Tuhan sangat menyakitkan dan melelahkan.
Ada satu tokoh di Alkitab yang lebih memilih mengikuti rancangan Tuhan walaupun karena itu dia harus sangat menderita. Namanya Yusuf. Yusuf adalah anak yang paling dikasihi Yakub. Dalam kehidupan sehari-hari Yakub senatiasa memberikan yang terbaik kepadanya. Bahkan ia mendapatkan jubah maha indah yang tidak di dapatkan oleh saudara-saudaranya yang lain. Tuhan mempunyai rencana yang besar buat Yusuf dan Yusuf tahu akan hal itu karena Tuhan menyatakannya melalui mimpi-mimpi. Namun untuk rencana besar itu Yusuf harus mengalami proses yang sangat menderita. Dia harus meninggalkan zona nyaman dan turun kedalam zona penderitaan.
Pertama ia dijual menjadi budak, Setelah menjadi budak Yusuf harus turun lagi kepada penderitaan yang lebih dalam yaitu menjadi tahanan, ia ditahan karena suatu kesalahan yang tidak dilakukannya. Menyakitkan sekali bukan?
Namun tidak ada satu ayatpun yang saya temukan di Alkitab Yusuf bersungut-sungut. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak menyalahkan saudara-saudaranya apalagi menyalahkan Tuhan. Saya yakin Yusuf bisa berbuat begitu karena ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam rencana Tuhan dan Tuhan sedang mempersiapkan dia untuk suatu rencana yang besar yaitu menyelamatkan keturunan Israel. Memang benar ia berada dalam rencana Tuhan, karena setelah itu ia diangkat menjadi penguasa atas Mesir dan dengan demikian ia dapat menyelamatkan kaum keturunan ayahnya dari bahaya kelaparan yang sedang melanda dunia.
"Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar". (Kejadian 50:19-20).
Ayat ini menguatkan keyakinan saya bahwa Yusuf menyadari sejak awal bahwa Tuhan punya rancangan besar dalam hidupnya dan ia memilih rancangan Tuhan itu.
Bagaimana dengan kita, apakah kita mau memilih rancangan Tuhan? Atau memilih rancangan kita sendiri?
Saudaraku, Tuhan punya rencana yang indah buat kehidupan kita. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan untuk saudara namun satu hal yang pasti bahwa rencana Tuhan tidak merancangkan rancangan kecelakaan melainkan rancangan yang damai sejahtera yaitu masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Amien**
Tambahkan penjelasan
"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN". (Yesaya 55:8). Ayat diatas dengan tegas menjelaskan bahwa rancangan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Bagi orang Kristen ayat ini pasti sudah tidak asing lagi. Tanpa dihafalpun sudah terhafal sendiri karena terlalu sering di dengar. Dikatakan memang mudah tapi di praktekkan sangat sulit. Saya jadi teringat apa yang ditulis Yohannes ketika di pulau Patmos. "Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya". (Wahyu10:10). Firman Tuhan itu mudah sekali diperkatakan, bahkan cukup enak untuk disampaikan namun pada prakteknya sangat susah, dengan kata lain terasa pahit. Pada umumnya manusia lebih memilih rancangannya sendiri dari pada rancangan Tuhan. Karena rancangan manusia lebih terfokus kepada hal-hal duniawi sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada hal-hal rohani. Manusia lebih memilih mengembangkan kehidupan jasmani dari pada kehidupan rohani. Contohnya dalam memilih pasangan hidup, manusia lebih cenderung memilih pasangan yang cantik/ganteng, sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada kecantikan rohaniah. Karena rancangan Tuhan lebih tertuju kepada hal-hal yang bersifat rohani maka orang yang hidup dalam keinginan daging akan sangat sulit mengikutinya. Itulah sebabnya mereka lebih cenderung memilih rancangan sendiri karena rancangan Tuhan sangat menyakitkan dan melelahkan. Ada satu tokoh di Alkitab yang lebih memilih mengikuti rancangan Tuhan walaupun karena itu dia harus sangat menderita. Namanya Yusuf. Yusuf adalah anak yang paling dikasihi Yakub. Dalam kehidupan sehari-hari Yakub senatiasa memberikan yang terbaik kepadanya. Bahkan ia mendapatkan jubah maha indah yang tidak di dapatkan oleh saudara-saudaranya yang lain. Tuhan mempunyai rencana yang besar buat Yusuf dan Yusuf tahu akan hal itu karena Tuhan menyatakannya melalui mimpi-mimpi. Namun untuk rencana besar itu Yusuf harus mengalami proses yang sangat menderita. Dia harus meninggalkan zona nyaman dan turun kedalam zona penderitaan. Pertama ia dijual menjadi budak, Setelah menjadi budak Yusuf harus turun lagi kepada penderitaan yang lebih dalam yaitu menjadi tahanan, ia ditahan karena suatu kesalahan yang tidak dilakukannya. Menyakitkan sekali bukan? Namun tidak ada satu ayatpun yang saya temukan di Alkitab Yusuf bersungut-sungut. Ia tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak menyalahkan saudara-saudaranya apalagi menyalahkan Tuhan. Saya yakin Yusuf bisa berbuat begitu karena ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam rencana Tuhan dan Tuhan sedang mempersiapkan dia untuk suatu rencana yang besar yaitu menyelamatkan keturunan Israel. Memang benar ia berada dalam rencana Tuhan, karena setelah itu ia diangkat menjadi penguasa atas Mesir dan dengan demikian ia dapat menyelamatkan kaum keturunan ayahnya dari bahaya kelaparan yang sedang melanda dunia. "Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar". (Kejadian 50:19-20). Ayat ini menguatkan keyakinan saya bahwa Yusuf menyadari sejak awal bahwa Tuhan punya rancangan besar dalam hidupnya dan ia memilih rancangan Tuhan itu. Bagaimana dengan kita, apakah kita mau memilih rancangan Tuhan? Atau memilih rancangan kita sendiri? Saudaraku, Tuhan punya rencana yang indah buat kehidupan kita. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan untuk saudara namun satu hal yang pasti bahwa rencana Tuhan tidak merancangkan rancangan kecelakaan melainkan rancangan yang damai sejahtera yaitu masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Amien**
Dalam foto ini: yulita takahepis, Yulita Takahepis, Nelwan Takahepis, Jhon Luis Lopes (foto) , Hendratmo Budirahardjo, Bunda Jul (foto) , Yohanes Heri Wijonarko (foto) , Yermika Patintingan (foto) , Kevin Levi (foto) , Biyan Diesson, Dota Lengloi, Wempee Yantee, Nona Sabu Manise (foto) , BoRu Panggoaran MaRpaung, Chrisna Rk Chrisna, Kasih Sejati, Angky Panie (foto) , Bernard Hadyanto (foto) , Angga Kusmanto (foto) , Andre Marthin, Agus Lukito (foto) , Agustinus Darmanto (foto) , Jamahan Kasih (foto) , Bfc Sby, Hosea Fui (foto) , Itje Odja, Endy Wen (foto) , Emilia Emiliano, Dilla A Reginal, Dian Lamboux L Toruan, Jhonluis Lopes, Sofia Kadja Bunga (foto)
Minggu, 17 April 2011
Yesus, Kau Nahkodaku
1. Yesus, Kau Nahkodaku
di samud’ra hidupku.
Badai topan menggeram
dan gelombang menyerang.
Kemudikan bidukku,
Yesus, Kau Nahkodaku.
2. Bak diusap bundanya,
ronta anak mereda,
ombak dahsyat pun teduh,
turut p’rintahMu penuh.
‘Kau Penguasa laut seru,
Yesus, Kau Nahkodaku!
3. Bila tiba saatku
melabuhkan bidukku,
waktu ombak mengg’legar,
b’ri sabdaMu kudengar,
“Jangan takut, anakKu,
‘Ku tetap Nahkodamu!”
Sabtu, 16 April 2011
Taat Mutlak dan Tanpa Pamrih
Setiap tahun kita melakukan ritual minggu sengsara dan paskah ini. Bahkan sudah menjadi tradisi di dalam komunitas kita untuk melakukan persekutuan doa khusus selama masa minggu sengsara dan Paskah, yang kadang disertai dengan berpuasa. Maksud dari tradisi ini sungguh indah, yaitu untuk mengingatkan kita semua akan pengorbanan Yesus demi kita. Dia yang mulia telah rela menjadi hina demi kita. Kesengsaraannya yang dahsyat, rela dilakoninya karena kasihnya yang demikian besar kepada kita. Dengan menjalankan ritual minggu sengsara yang dipuncaki dengan perjamuan suci di Jumat Agung dan perayaan kemenangan di hari Paskah, kita ingin mengenang dan mensyukuri kasih karunia yang kita telah terima.
Sudah bertahun-tahun saya juga ikut menjalankan ritual minggu sengsara dan Paskah ini, dan semuanya sudah mulai berjalan secara otomatis. Doa-doa, puasa, bahkan rasa haru karena penderitaan Yesus Kristus tanpa sadar mulai terasa sebagai sesuatu yang rutin harus terjadi di masa ini. Semua yang menjadi rutinitas dengan mudah akan menjadi tidak bermakna, karena itu sebelum itu terjadi, saya mau duduk dan merenungkan sekali lagi makna sengsara dan kematian Yesus bagi saya.
Pertanyaan yang terutama adalah mengapa Yesus harus menderita sengsara dan mati di kayu salib? Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:16). Jawabannya hampir otomatis meloncat dari kepala saya, “karena kasih Allah akan manusia, karena Yesus sungguh mengasihi saya.” Saya kira banyak orang Kristen yang juga akan memberi respon yang sama dengan saya terhadap pertanyaan ini. Sejak di sekolah minggu, kita sudah diajarkan tentang hal ini. Allah mengasihi kita sehingga Yesus harus lahir di kandang hina di Betlehem, dan kemudian mati dengan sengsara yang memilukan di atas kayu salib. Seorang hamba Tuhan bahkan memakai cuplikan film The Passion of the Christ karya Mel Gibson dalam khotbahnya, untuk menjelaskan betapa dahsyatnya kesengsaraan Yesus.
Jawaban yang kedua yang kadang diberikan kepada pertanyaan di atas adalah karena Yesus taat kepada kehendak Allah Bapa. Doa Yesus di taman Getsemani sebelum penangkapannya dan uraian Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:5-8), menunjukkan bahwa Yesus menderita sengsara dan mati dengan mengerikan di kayu salib karena ketaatannya kepada Allah. Dibanding jawaban yang pertama, jawaban ini sedikit ‘kurang otomatis’ karena membutuhkan sedikit perenungan. Namun jawaban ini juga tidak berbeda jauh dengan jawaban yang pertama, karena Yesus taat kepada Allah Bapa karena dia kasihnya yang teramat besar bagi kita.
Dua jawaban yang hampir otomatis ini menunjukkan bahwa betapa cerita pengorbanan Yesus sudah benar-benar menjadi internal dalam diri kita. Itu sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Akan tetapi, di masa minggu sengsara kali ini saya menemukan satu hal yang berbeda. Cerita yang sudah demikian tertanam di dalam kepala kita itu, tanpa sadar membuat kita melupakan satu detail penting tentang kedatangan Yesus ke dunia ini. Itu adalah kehidupan Yesus di dunia bukan hanya cerita kelahiran di kandang hina di Betlehem dan kematian penuh sengsara di Kalvari. Di antara dua cerita itu, ada cerita lain, yang tidak kalah pentingnya untuk direnungkan, karena cerita yang satu itu adalah “jembatan” yang menghubungkan Betlehem dan Kalvari.
Selain cerita kasih Allah yang teramat besar dan ketaatan Yesus Kristus yang mutlak kepada kehendak Allah Bapa, ada sebuah cerita lain yang perlu direnungkan di masa minggu sengsara dan Paskah ini. Itu adalah cerita kehidupan Kristus di dunia ini. Bagaimana kasih Allah yang teramat besar itu dinyatakan dalam tindakan Yesus, dan kehendak Allah Bapa yang seperti apa yang ditaati Yesus dengan mutlak selama kehidupannya, adalah dua hal yang sangat berharga untuk kita renungkan juga.
Yesus tidak datang kepada para pemuka agama atau penguasa Romawi dan meminta mereka untuk serta merta menangkap, menyiksa, dan menyalibkan dia. Jika itu yang dia lakukan, karena itu adalah kehendak Allah Bapa, mungkin dia malah tidak akan pernah mati di kayu salib. Akan tetapi, apa yang dilakukan Yesus ketika dia memulai melaksanakan tugasnya di dunia ini, setelah pentahbisannya melalui baptisan Yohanes Pembaptis di sungai Yordan dan pencobaan di padang gurun? Yesus masuk ke rumah ibadat dan menyatakan: 18 “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku 19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” 20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. 21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk 4:18-21).
Kita bisa setuju tujuan Yesus datang ke dunia adalah untuk menderita sengsara dan mati di kayu salib Kalvari. Kehendak Allah adalah Yesus menjadi anak domba Paskah yang berkorban untuk menebus kita manusia dari dosa-dosa kita. Akan tetapi, Yesus menderita sengsara dan mati di kayu salib bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Sengsara dan kematiannya terjadi karena apa yang dikerjakannya selama kurang lebih 3,5 tahun kehidupan publiknya di dunia. Injil Lukas mencatat dengan terang benderang, deklarasi Yesus mengenai apa yang akan dikerjakannya selama hidupnya yang singkat di dunia ini. Dia adalah sang Mesias, yang diurapi dengan Roh Tuhan untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, pembebasan kepada orang tawanan, penglihatan kepada orang buta, membebaskan orang tertindas, dan memberitakan tahun kasih karunia telah tiba. Kehidupan publiknya yang singkat di dunia ini adalah kehidupan yang menjalankan semua hal ini.
Butuh banyak halaman untuk menceritakan dengan tuntas kehidupan publik Yesus. Akan tetapi, dengan ringkas kita bisa melihat, bahwa tugas yang diemban Yesus di dunia ini, membawa dia melakukan banyak hal yang ternyata tidak disukai oleh para pemimpin agama di masa itu. Dia memberitakan kabar baik kepada orang miskin dengan cara menyelesaikan persoalan kemiskinan mereka. Dia membawa pembebasan kepada orang tawanan, dengan cara membebaskan mereka dari tawanan. Dia memberikan penglihatan kepada orang buta, memerdekakan mereka yang tertindas, dan memberikan pengampunan kepada mereka yang tenggelam paling dalam oleh karena dosa.
Keempat Injil mencatat, berkali-kali Yesus ditentang para pemuka agama, ahli Taurat dan orang Farisi, karena dia bertindak tidak sesuai dengan ‘kaidah-kaidah’ yang mereka anut selama ini. Di hari Sabat dia melakukan banyak mujizat dengan sengaja. Dia bergaul dengan kelompok-kelompok yang dijauhi oleh para pemuka agama karena dianggap berdosa. Dia bahkan membiarkan dirinya dijamah oleh orang-orang yang dianggap najis oleh fatwa para pemimpin agama. Dia mencari sendiri murid-muridnya, dan mereka adalah orang-orang dari kalangan biasa, yang tidak punya pemahaman agama seperti umumnya para murid ulama-ulama di masa itu. Mereka adalah orang-orang biasa, bahkan dari kalangan yang rendah dan tidak dihargai di dalam masyarakat. Di antara orang-orang terdekatnya ada nelayan yang tidak berpendidikan, pemungut cukai, orang Zelot, bahkan ada banyak perempuan, termasuk Maria Magdalena yang terkenal karena dosa-dosanya. Mengapa Yesus menjalankan kehidupan publiknya dengan cara seperti itu? Jawabannya memang sederhana: karena itulah kehendak Allah baginya. Itu adalah tugasnya di dunia ini, tugas yang memimpin kepada tujuan sejati kedatangannya ke dunia, sebagai juruselamat manusia.
Saya rindu minggu sengsara dan Paskah saya selalu bermakna. Tahun ini saya menemukan maknanya dalam cerita kehidupan publik Yesus ini. Yesus tahu dengan baik tujuan kedatangannya ke dunia ini. Dan dia melakukannya dalam ketaatan yang mutlak. Meskipun ketaatan itu berarti dia harus berhadapan dengan kekuatan para pemimpin agama, yang telah beratus-ratus tahun mendominasi kehidupan umat dengan peraturan-peraturan mereka. Segala bentuk ancaman dan intimidasi, tidak bisa membungkam atau menghentikan Yesus melaksanakan tugas yang telah diamanatkan kepadanya. Sampai akhirnya Salib di Kalvari menjadi puncak ketaatan kepada Allah dan puncak kasih yang teramat besar itu.
Ketaatan Yesus juga ditunjukkan dalam totalitas yang ditunjukkannya. Dia melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya dengan total dan tanpa pamrih apapun. Dia tidak tergoda oleh peluang memperoleh kekuasaan secara politis. Dia juga menampik godaan untuk kekayaan dan kemewahan materi yang ditawarkan kepadanya. Bahkan dia juga tidak tergiur dengan popularitas dan ketenaran yang mengikuti dia karena apa yang dikerjakannya benar-benar menjawab kerinduan umat pada waktu itu. Sekali lagi, Yesus tahu dengan baik tujuan keberadaannya di dunia, dan sepenuhnya mengarahkan dirinya untuk melakukan tugas yang diamanatkan kepadanya.
Bagaimana Yesus bisa taat dengan mutlak dan total melakukannya tanpa pamrih? Injil menceritakan bahwa Dia hidup dalam persekutuan yang intim dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30). Itulah yang membuat dia mengenakan kuasa Allah yang memampukan dia mengerti dengan persis kehendak Allah yang harus dilakukannya.
Di masa minggu sengsara dan Paskah ini, teladan Yesus ini mengajarkan satu hal kepada saya, sudahkan saya menemukan tujuan keberadaan saya di dunia ini, dan tugas apa yang diamanatkan Tuhan bagi saya? Lalu, sudahkah saya menaatinya dengan mutlak, dan melaksanakannya dengan total tanpa pamrih?
Hidup dalam ketaatan kepada panggilan Tuhan, seringkali bukan hidup yang menyenangkan dan mudah. Ada begitu banyak ‘kuasa’ yang menentang, mengecam, menghalang-halangi. Terkadang bahkan kecaman dan tantangan justru datang dari orang-orang yang paling dekat bahkan. Hidup dalam ketaatan dan hidup yang tanpa pamrih pun mengandung ‘resiko’ yang besar. Tidak ada jaminan selain percaya kepada Dia yang memanggil, dan tidak ada ‘upah’ selain panggilan itu sendiri. Di minggu-minggu sengsara dan Paskah ini, saya mau hidup dalam persekutuan yang lebih intim dengan Allah Bapa, agar saya lebih lagi mengenakan kuasa-Nya yang memampukan saya mengerti kehendak-Nya dan mengikuti tuntunan-Nya, dan memampukan saya melakukan semua tugas yang diamanatkan kepada saya dengan taat dan tanpa pamrih. Yesus Kristus adalah teladan sempurna, dan pengikut Kristus mengikuti jejak kakinya.
10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, 11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. (Filipi 3:10-11)
Jumat, 15 April 2011
Yesus Kaulah sahabatku
Yesus Kaulah sahabatku
Yesus Kaulah Tuhanku
Yesus Kaulah segalanya bagiku
Di kala aku dalam kesesakan
Di saat aku dalam kebimbangan
Ketika aku putus pengharapan
Kutahu pasti Kaulah penolongku
Kau hiburkan hatiku
Kau kuatkan jiwaku
Kau briku kemenangan
Yesus Kau benteng dalam hidupku
GBU ALL
Rabu, 13 April 2011
YESUS ADALAH SEORANG PENDOA
Sebelum berkarya, Yesus selalu menyempatkan diri untuk berdoa. Apalagi untuk masalah yang satu ini, Yesus harus memilih kedua belas rasul-Nya. Mereka perlu dipersiapkan untuk meneruskan tugas perutusan guna menyebarkan khabar keselamatan untuk umat manusia. Agar pemilihan-Nya tidak meleset, maka mohon bimbingan Bapa agar pemilihan yang penting ini tidak bermasalah.
Yesus memberikan teladan untuk berdoa. Bahkan Yesus bisa berdoa semalaman tanpa henti. Dengan cara ini, Ia mau meneladani para murid dan para pengikut-Nya untuk tidak jemu-jemunya berdoa. Doa merupakan sumber kekuatan hidup rohani.
Kepergian-Nya ke bukit untuk berdoa, Ia sungguh-sungguh dan bersikap hati-hati dalam memilih orang-orang dekat-Nya. Pemilihan ke-12 murid-Nya melambangkan ke 12 suku Israel. Kedua belas murid-Nya diambil dari berbagai kalangan, ada yang berasal dari nelayan, dari pemungut cukai (Matius), dan dari orang lainnya dari orang militant anti penjajahan yakni Yudas Iskariot, dan Simon dari orang Zelot.
Sesudah itu Yesus dalam karya-Nya harus menyembuhkan banyak orang, dari mereka yang mengalami sakit penyakit, sampai mereka yang kerasukan roh jahat. Semua orang berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya, dan semua orang disembuhkan.
Dalam karya-Nya Yesus selalu membuat mukjizat penyembuhan, dan banyak di antaranya yang bertobat dan mengikuti Yesus. Namun demikian, walau mereka menyaksikan mukjizat itu, ada pula yang tidak percaya. Ahli Taurat dan orang Farisi adalah kelompok-kelompok yang tidak percaya kepada Yesus. Bahkan mereka terus mengamati Yesus khususnya pada hari Sabat. Menurut mereka pada hari Sabatpun, mereka tidak boleh berbuat baik, dan berhenti berbuat baik.
Yang dapat kita petik dari renungan Injil Lukas hari ini, adalah bahwa baik sekali kalau kita mempunyai kebiasaan baik dengan doa-doa kita. Menimba suatu doa merupakan kebiasaan yang baik sehingga kita meniru Yesus bagaimana berdoa terus kita lakukan apalagi pada saat-saat kita memang membutuhkan bantuan dari doa. Oleh karena itu, kita tidak boleh berhenti atau malas berdoa.
Demikian renungan singkat hari sebagai inspirasi dari Injil Lukas 6:12-19, Tuhan berkati.-***
Doa,
Ya, Bapa, ajarilah aku untuk terus berdoa melaui Putera-Mu, Yesus, Juru Selamat kami, amin.
Langganan:
Postingan (Atom)






